Harmoni Agama di Tiga Dusun

Di tengah situasi seperti sekarang ini, tiga wilayah penelitian tersebut bisa dikatakan menjadi oase bagi perdamaian dan prikehidupan masyarakat yang saling menghargai

Jakarta-wahidinstitute.org. Sejumlah studi dan penelitian tentang relasi agama di Indonesia kebanyakan diwarnai wacana konflik dan ketegangan. Dengan demikian, kajian-kajian mengenai relasi agama ini lebih banyak mengedepankan fakta-fakta ketegangan dan konflik berikut faktor-faktor pemicunya.  “Terus terang kami sedikit ada kejenuhan ketika bicara agama yang kita bicarakan konflik,” Audriane F. Sani dalam Presentasi Hasil Riset ‘Relasi Buddhis-Muslim di Pedusunan Jawa’, Jumat (22/10) di ruang pertemuan the Wahid Institute, Jakarta.

Audri adalah peneliti Center of Asian Studies (Cenas) Jakarta, lembaga yang mengelar penelitian tiga relasi  Buddhis-Muslim yang juga didapuk sebagai moderator. Kegiatan sore itu sendiri digelar Cenas bekerjasama dengan the Wahid Institute. Cenas merupakan lembaga independen yang berdiri sejak Oktober 2005. Lembaga ini didirikan untuk tujuan mempedalam pemahaman yang lebih dalam mengenai multikulturalisme dan keragaman di Asia. Pada Juni 2006, CENAS pernah diundangan sebagai peserta Dialoh Buddha-Muslim yang dihelat  International Network of Engage Buddhism (INEB), Bangkok.

Dalam pemaparan penelitian lembaga yang dipimpin Zaenal Abidin Eko Putro ini ditemukan kehidupan yang harmonis antara kedua kelompok keagamaan ini. Penelitian ini sendiri mengambil lokasi di tiga di tiga pedusunan: Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur; Barakan, Malang Jawa Timur; dan Tlogowungu, Temanggung, Jawa Tengah.

Di Gambiran misalnya, hubungan kelompok muslim dan Buddhis sejauh ini bisa dikatakan berjalan harmonis. Salah satu kuncinya adalah medium interaksi saat-saat hari raya.  Ketika Hari Raya Idul Fitri, masyarakat yang menganut agama Buddha jamak bersilaturrahim ke tetangga mereka yang muslim sembari berbagi panganan. Termasuk juga di acara seremoni-seremoni lain seperti pelepasan dan penyambutan warga yang akan pergi atau pulang haji. Masyarakat Buddhis terbiasa untuk terlibat mulai dari mendirikan tenda hingga penyiapan kue.

Hal serupa juga ditemukan di Dusun Tlogowung, Temanggung. Dalam pendirian rumah ibadah seperti masjid atau vihara dua komunitas ini saling membantu. Selain menyumbang tenaga mereka biasa menyumbang material pembangunan seperti kayu. Dusun Tlogowung saat ini memiliki 4 vihara dan 6 Cetya ini.

Di Dusun Bakaran, Malang, ditemukan tradisi yang unik di lingkungan masyarakat Buddhis. Sebagian mereka melakukan tradisi khitanan seperti kalangan muslim. Padahal dalam tradisi Buddha tak ditemukan ajaran untuk khitan. Tradisi tersebut, menurut salah seorang tokoh buddhis di sana dilakukan karena tradisi yang sudah ada di dusun tersebut dan dilakukan nenek-moyang mereka. Warga Buddhis juga sudah biasa takziah dan mendoakan tetangga mereka yang muslim. Begitupun sebaliknya.

Melihat hasil temuan penelitian tersebut, Jo Priastana, dosen pada Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda Jakarta, yang menjadi narasumber menyatakan optimismenya terhadap masa depan toleransi beragama di Indonesia. “Di tengah situasi seperti sekarang ini, tiga wilayah penelitian tersebut bisa dikatakan menjadi oase bagi perdamaian dan prikehidupan masyarakat yang saling menghargai,” katanya. Jo sendiri tak menampik kalau di tengah fakta positif, masih ada masalah-masalah seperti tergambar dalam hasil penelitian yang menurutnya lebih disebabkan masalah birokrasi negara. “Ini lebih banyak soal pelayanan yang tidak adil oleh negara”.

Abdul Moqsith Ghazali, pembicara lainnya juga memberi apresiasi terhadap penelitian yang disebutnya sebagai salah satu kerja rintisan penting. Peneliti senior the Wahid Institute ini mengakui, relasi Buddha-Islam memang masih sering absen dalam pembicaraan relasi agama di Indonesia. Dalam kesempatan itu ia mengusulkan agar Cenas melakukan langkah yang lebih luas lagi, yakni memotret perjumpaan Buddha-Islam di Tanah Air seperti yang dilakukan Jan S. Aritonang ketika memotret relasi Islam-Kristen. Pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia dan dosen Sejarah Gereja di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta ini adalah penulis Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang memotret sejarah perjumpaan Islam-Kristen sejak abad ke-15. “Dengan memotret sejarah perjumpaan Buddha-Islam secara komprehensif, masyarakat tentu akan semakian paham dan mengerti,” katanya. (AMDJ)

 

sumber:

http://wahidinstitute.org/Program/Detail/?id=450/hl=id/Harmoni_Agama_Di_Tiga_Dusun

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*