Audiensi Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dengan Pimpinan MPR RI – ICRP Gagas Sekolah Agama Lintas Agama dan Kepercayaan

Sekitar 6 orang pengurus pusat ICRP yakni A.Malik Haramain (Wakil Ketua), Michael Utama Purnama (Sekretaris Yayasan), Mohammad Monib (Koordinator Bidang Pendidikan), Wendah Soetomo (Wakil Koordinator Bid. Pendidikan), Sudiono (anggota), dan Nadya (Staf), yang dipimpin langsung Ketua Umumnya, Musdah Mulia, hari ini memang menjadwalkan diri beraudiensi dengan Pimpinan MPR RI untuk membahas persoalan kerukunan masyarakat dan hubungannya dengan 4 pilar berbangsa dan bernegara.

Kepada Pimpinan MPR RI, Musdah menjelaskan bahwa maksud kedatangan ICRP sebagai lembaga yang cinta perdamaian dan kerukunan antara masyarakat, ingin berbagi rasa keprihatinan ICRP tentang kondisi kerukunan antar rakyat dan antar agama yang saat ini tengah terkoyak-koyak.

“Dan hal ini merasuk kepada generasi muda kita, ini sangat memprihatinkan kami. Untuk itulah kami ingin lakukan upaya-upaya edukasi membangun masyarakat cinta perdamaian dengan target utama dari kalangan generasi muda Indonesia. Untuk itulah kami datang ke MPR untuk menawarkan kerjasama, karena hal ini berkaitan erat dengan pembangkitan implementasi 4 pilar berbangsa dan bernegara yang sedang gencar di lakukan MPR RI,” ujar Musdah.

Koordinator Bidang Pendidikan ICRP, Mohammad Monib menambahkan, dari hasil riset yang dilakukan beberapa institusi pendidikan seperti UGM dan Paramadina, serta lembaga seperti Asia Foundation, hasilnya sangat memperihatinkan. Diantaranya, pada sistem pendidikan dari tingkat SD sampai SMA, pemahaman Pancasila sepertinya tidak lagi dibutuhkan.

“Padahal Pancasila adalah perekat dan pemersatu bangsa yang sangat beragam. Ini sangat mengkhawatirkan kami. Falsafah Pancasila sepertinya tidak lagi dibutuhkan. Melihat kondisi ini, kami menggagas sebuah konsep pendidikan informal ‘Sekolah Agama’,” ujar Monib.

Monib menjelaskan bahwa sekolah agama ini adalah sekolah dengan merekrut peserta didik dari lintas agama, lintas suku dan kepercayaan. Beberapa program yang sedang dijalankan adalah, Kuliah Tematik, Lecture, Workshop soal pemahaman keagamaan yang menghormati nilai-nilai pluralisme dengan pengajar berasal dari unsur Islam, Gereja, dan elemen-elemen masyarakat yang peduli pada pluaralisme.

“Saat ini baru diadakan di Jakarta, tapi kami akan memperluas ke daerah-daerah lain terutama daerah yang sering terjadi konflik SARA. Untuk itu kami mohon dukungan MPR RI tentang gagasan kami ini,” kata Monib.

Ketua MPR RI Taufiq Kiemas dalam kesempatan itu mengatakan bahwa MPR sangat mengapresiasi ide dan gagasan yang baik tentang sosialisasi dan implementasi pemahaman 4 pilar berbangsa dan bernegara dari berbagai elemen masyarakat seperti ICRP ini.

“Saling menghormati perbedaan antar rakyat di Indonesia memang sudah jati diri bangsa sejak dulu. Malah banyak pihak bahkan dari lnternasional yang kagum bahwa Indonesia sejak memperoleh kemerdekaannya sudah mengenal tentang pluralisme, bersatu dalam keberagaman. Pancasila sudah ada dan dipahami rakyat, betapa indahnya. Itu yang dilihat masyarakat internasional,” papar Taufiq.

Taufiq menegaskan kepada elemen masyarakat seperti ICRP yang ingin bekerja sama dengan MPR dalam sosialisasi 4 pilar bahwa 4 Pilar tidak hanya menjadi wacana, diskusi dan teori, Tapi harus ada implementasinya itulah yang menjadi visi dan misi MPR.

“Dialog antar elemen masyarakat yang berpengaruh besar dan berkontribusi besar dalam implementasi keberagaman dalam persatuan harus dilakukan secara massif dan simultan, inilah yang harus dilakukan,” tandas Taufiq.

Wakil Ketua MPR Lukman Hakin Saifuddin menyatakan bahwa apa-apa yang menjadi misi dan visi ICRP dalam konteks untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu, damai dalam keberagaman yang memang menjadi fitrah bangsa Indonesia adalah sesuai dengan visi dan misi MPR.

“Keprihatinan kita tentang generasi muda yang mengambil pemahaman sempit dan eksklusif soal agama sehingga meretakkan sendi persatuan bangsa, memang harus kita pikirkan bagaimana mengatasinya. Gagasan ICRP untuk membuat suatu program edukasi seperti sekolah agama itu,jika memang pada akhirnya akan memperbaiki jalinan persatuan dan saling hormat-menghormati, patut mendapatkan dukungan kita. Tapi kita juga butuh semacam konsep bagaimana teori, pemahaman dan internalisasi keberagaman yang memang sebagai suatu fitrah,” ujar Lukman.

Terkait dengan sosialisasi 4 pilar secara lebih efektif, Lukman menegaskan perlu adanya satu lembaga yang secara penuh dan aktif bertanggung jawab dalam hal sosialisasi dan usaha implementasi 4 pilar kepada masyarakat seperti Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP 7) dengan metode yang disempurnakan sesuai dengan keperluan dan kondisi saat ini dan masa depan.

Sumber:

http://mpr.go.id/berita/read/2011/04/05/850/audiensi-indonesian-conference-on-religion-and-peace-icrp-dengan-pimpinan-mpr-ri–icrp-gagas-sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*