Kemitraan Lintas Agama Demi Kepentingan Masyarakat

Dewasa ini, masyarakat terlalu dibebani dengan permasalahan yang kompleks. Muai dari himpitan ekonomi, minimnya lapangan pekerjaan, mahalnya kualitas pendidikan, buruknya kesehatan, bahkan sampai bencana alam yang semakin tinggi intensitasnya. Persoalan-persoalan yang semakin menghunjam ke masyarakat ini membuat para tokoh agamawan tergerak untuk membahas sejauh mana peran agama terhadap penangan persoalan-persoalan masyarakat tersebut. Melalui acara bertajuk workshop kemitraan lintas agama bagi pembangunan sosial dan upaya bantuan kemanusiaan oleh kelompok lokal dan agen internasional di Indonesia, para tokoh agamawan serta lembaga-lembaga kemanusiaan berbasis agama duduk bersama membincang efektifitas jalinan kemitraan.

Acara yang dilaksanakan di Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini dihadiri oleh setidaknya 30 perwakilan tokoh agama dan lembaga kemanusiaan berbasis agama. Secara garis besar acara workshop dibagi menjadi empat sesi. Setiap sesi diisi dengan pengalaman masing-masing agama dan lembaga dalam melaksanakan pengabdian ke masyarakat.

Secara umum hambatan-hambatan lembaga kemanusiaan berbasis agama ini dalam pelaksanaannya di masyarakat menghadapi masalah yang hampir sama. Seperti kecurigaan dan ketakutan masyarakat terhadap misi terselubung dari agama tertentu. Misalnya diungkapkan oleh Johny Sirait dari lembaga Word Vision . Word Vision merupakan lembaga kristen yang konsen terhadap isu-isu kemanusian seperti pendidikan dan bencana alam. “Terkadang masyarakat masih menganggap ada udang dibalik batu dari apa yang telah kami lakukan seperti ini” ungap Johny Sirait.

Hal senada muncul dari Budi Setiawan pengurus Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) yang pernah melaksanakan kerjasama kemitraan dengan non-muslim. Komentar negatif justru datang dari masyarakat muslim yang tidak menerima sepenuhnya bantuan yang diberikan dari warga non-muslim. Sedangkan Rosana dan Suryadi perwakilan dari lembaga kemanusiaan Budha Tzu Chi mengemukakan bahwa dalam melaksanakan pelayanan terhadap masyarakat harus mengedepankan  ketulusan dan keikhlasan.

Setiap agama atau lembaga tentu mempunyai pengalaman sendiri-sendiri atas pengabdian mereka ke masyarakat. Tentu tidak semua komentar yang datang tidak serta merta negatif. Beberapa lembaga tercatat telah melaksanakan kerja kemitraan dengan baik dan lancar. Seperti diungkapkan oleh Pdt. Kuntadi Sukmadikarya pengurus Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan Romo Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). GKI dan KWI mencatat telah bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain dalam membantu masyarakat seperti penanganan banjir, gempa bumi dan bencana alam lain.

H. Abdul Latif Bustami, dari Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengemukakan hal serupa. PBNU selama ini telah bekerjasama dengan berbagai pihak baik muslim dan non-muslin untuk membantu permasalahan masyarakat. Bahkan PBNU juga sempat bekerjasama dengan pemerintahan-pemerintahan luar negeri seperti penmerintahan Australia dalam beberapa penangan bencana alam di Indonesia.

Acara ini bertujuan untuk menguji efektifitas formasi kemitraan/kerjasama selama ini di Indonesia. Dengan acara ini diharapkan keluar solusi dari hambatan-hambatan yang ditemukan dilapangan. Seperti diungkapkan oleh Amelia Fauzia dan Minakao Sakai sebagai pelaksana workshop ini.  Hasil dari workshop ini kemudian akan dijadikan sebagai jurnal internasional dan dijadikan sebagai bahan workshop dimasa yang akan datang yang fokusnya akan diperluas menjadi Asia Tenggara atau Asia Pasifik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*