Mimpi Buruk Aksi Teroris

Ledakan bom Bali pada 12 Oktober 2002 menyisakan kenangan pahit yang begitu mendalam bagi para korban. Sekurang-kurangnya tercatat 202 jiwa meninggal dan 209 orang luka-luka atau cidera menjadi korban keganasan aksi terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Selain para keluarga korban, keluarga para pelaku juga mengalami kenangan pahit atas aksi tersebut. Apa sebenarnya yang mereka (para pelaku bom bali) harapkan dari aksi tersebut, apakah sikap kemanusiaan mereka tengah pupus, lalu bagaimana pemahaman keagamaan mereka sehingga mereka mengkambinghitamkan jihad fi sabilillah sebagai dalil aksi-aksi keji tersebut. Pertanyaan pertanyaan itulah yang ingin dijawab dalam film berjudul Prison and Paradise.

Daniel Rudi Haryanto, sang sutrada film tersebut dalam sebuah forum diskusi dan bedah film di kawasan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Selasa, 22 November kemarin menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi terhadap filmnya tersebut. Tercatat dari berbagai sumber film ini juga telah memenangkan penghargaan sebagai film panjang dokumenter terbaik di festival felm Documenter Jogjakarta 2010. film ini telah di putar pertama kali di tingkat internasional (world primer) di dubai internasional film festival, telah juga di putar di cinema digital seoul film festival, fibgyor film festival india, yamagata film festival jepang, dan di putar di asiaticafilmediale Roma Italia,RIDM Montreal Canada, Asia Pasific Screen Award Goldcoast Australia, dan GOA Film Festifal India.

Daniel mengemukakan film ini menjadi penting untuk memberikan gambaran visual bagaimana argumentasi-argumentasi para pelaku bom bali 1 secara komprehensif. Karena dari film ini kita akan menemukan beberapa hal yang cukup mengejutkan. Misalnya, sikap penyesalan salah satu pelaku bom Ali Imran. ┬áDi dalam film berdurasi kurang lebih 90 menit tersebut Ali Imran dengan jujur mengakui menyesal atas aksinya tersebut dengan alasan selama ini dia salah memaknai jihad fi sabilillah. “Jika seandainya yang saya lakukan ini benar, maka saya akan disanjung-sanjung oleh banyak orang. Tidak seperti saat ini, saya diuber-uber oleh polisi dan siapa saja” tandas Ali Imran dalam bilik-bilik jeruji penjara yang disorot secara apik oleh mata kamera Daniel.

Sedangkan para pelaku bom bali lainya seperti Amrozi, Imam Samudra alias Abdul Aziz, dan Mubarak dalam bilik-bilik jeruji yang berbeda dan dengan penerangan lampu yang cukup redup menegaskan bahwa mereka tidak menyesal. “Mungkin dia (Ali Imran) sudah mendapat intervensi dari polisi atau siapalah sehingga begitu” ungkap Amrozi dengan mimik muka yang kelihatan cukup rileks mengomentari penyesalan yang dilakukan oleh teman seperjuangannya Ali Imran.

Sementara M. Zaki Mubarak, M. Si (Dosen UIN Jakarta) dan Muhammad Miqdad (Direktur Institute Titian Perdamian) yang didaulat menjadi pembicara dalam diskusi dan bedah film tersebut mengemukakan ulasan yang hampir sama. Mereka menganggap bahwa film ini patut untuk ditonton tidak hanya di dalam negeri tetapi diluarnegeri. Pasalnya, dari film ini akan terlihat dimana letak akar intoleransi dan aksi-aski radikal itu muncul.

Diskusi yang laksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits (BEM-J TH) ini mendapat banyak antusias dari peserta. Tercatat lebih dari 250 peserta datang untuk melihat dan berdiskusi tentang film ini. Dari bebera peserta mengemukakan bahwa film ini tengah membukakan mata mereka bahwa aksi terorisme itu memang sangat dekat dengan keseharian mereka. Mereka sadar bahwa ideologi-ideologi radikal seperti yang diungkapkan para pelaku bom bunuh diri tersebut telah banyak disekitar mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*