Bahaya Radikalisme

“Agama itu perlu, tetapi tidak perlu formalistik” ungkap Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) di Seminar Nasional yang diselenggarakan Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), Minggu (20/11/2011) kemarin. Selain Musdah Mulia, hadir pula pembicara yang lain seperti Yudi Latif, Frans Magnis Suseno, Dody Susanto, serta Bikhu Jaya Medo.

Seminar bertajuk “Bahaya Radikalisme Bagi Keselamatan Bangsa” yang diselenggarakan di MGK Kemayoran tersebut juga untuk memperingati ulang tahun KASI yang ke-13. Indeks radikalisme Indonesia yang sudah berada diatas normal menggerakkan pengurus KASI untuk menggelar seminar tersebut. Menurut Joko Wuryanto Dirjen Bimas Budha Departemen Agama RI, saat membuka acara tersebut mengungkapkan bahwa Indonesia adalah tempat kemajemukan dan perbedaan berkumpul. Bahkan umat budha yang hanya 2% dari jumlah penduduk Indonesia mempunyai 25 majlis sedangkan Thailand yang jumlah umat budhanya mencapai 90% hanya mempunyai 3 majlis. Meskipun begitu, tidak ada satupun sekte yang radikal dalam agama budha.

Aksi-aksi radikalisme muncul karena mereka tidak menerima perbedaan. Perbedaan yang muncul dimasyarakat dianggap sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi kaum radikal. Mereka berasumsi bahwa untuk menunjukkan eksistensi mereka maka mereka harus mengeliminasi eksistensi orang lain. Seperti diungkapkan Yudi Latif, teroris berani mati karena mereka menganggap perbedaan adalah musuh dan ancaman yang harus dihancurkan. “Teroris berani mati, tetapi tidak berani hidup, mereka adalah musuh kehidupan, musuh kita bersama” tegas dosen Paramadina tersebut.

Lanjut Yudi Latif, kemajemukan di Indonesia ini adalah fitrah. “Indonesia yang sudah tidak menghargai perbedaan lagi adalah bukan Indonesia” lanjutnya, “republik ini didirikan tidak hanya satu unsur atau golongan.” BPUPKI sebagai penggagas negara Indonesia tidak hanya terdiri dari satu macam unsur saja, tetapi didalamnya mencakup berbagai perwakilan suku, etnis dan agama. Begitupun juga dengan sumpah pemuda yang melahirkan eksistensi dan motivasi kemerdekaan Republik Indonesia, semua anggotanya terdiri dari multi etnis, agama, bahasa dan buday. Pemakaian bahaya melayu sebagai bahasa pemersatu bangsa adalah bentuk solidaritas yang terbangun. Padahal banyak pemuda (joung) yang berasal dari pulau jawa. Jadi para fundhing fathers and mathers kita tengah mengajarkan kemajemukan sejak dulu.

Oleh sebab itu, perlu upaya revitalisasi pancasila untuk membendung aksi-aksi radikalisme tersebut. Pancasila menjadi penting karena hanya dengan pancasila bangsa indonesia akan dapat bersatu seperti diungkapkan Soekarno. Yudi Latif mengemukakan bagaimana pancasila membendung ancaman radikalisme dengan 5 hal. Pertama, keagamaan yang berkebudayaan. Hal ini diperlukan mengingat banyak gerakan dan ideologi transnasional berkembang dibumi pertiwi tanpa ada penyaring kebudayaan. Sehingga diterima mentah-mentah oleh segelintir orang lalu dipaksakan penerapanya, padahal konteksnya berbeda dengan kondisi Indonesia.

Kedua, miskin dan rapuhnya nilai keagamaan. Agama dipandang dan dilaksanakan sebagai sebuah legal formalistik. Jika demikian maka tak jarang akan banyak ditemui kaum-kaum yang menyeru tuhan sambil menghunus pedang dilher orang lain. Padahal menurut Yudi Latif, Tuhan tidak bisa didekati kecuali dengan mendekati manusia.

Ketiga, macetnya pergaulan yang berkemajemukan. “kita ini bangsa yang plural, tetapi cara berkehidupan kita monokultural” ungkap Yudi Latif. Kaum fundamentalisme dan radikalisme merupakan segolongan kelompok yang ruang pergaulannya tertutup.

Keempat, politik yang menjauh dari masyarakat. Cara pengambilan keputusan politik kita saat ini tengah membentuk sebuah kelompok yang teralienasi dari politik. Politik menjadi terapung dengan basis masyarakat sehingga politik hanya mengawang-awang. Publik yang tidak punya ekses politik ini kemudian ingin mewujudkan ekspresi politik mereka dengan jalan yang lain seperti radikalisme. Ekses yang lain bisa juga memaksakan legal formal syariat dalam struktur pemerintahan. Ini tentu akan berbahaya dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Kelima, munculnya terorisme disebabkan karena tidak berjalannya sense of conseption of justice. Teroris muncul karena munculnya sceptisisme terhadap demokrasi. Demokrasi dianggap sebagai sistem negara kafir.

Sedangkan Frans Magnis Suseno berpendapat bahwa aksi radikalisme dan fundamentalisme adalah bagian dari totalitas terhadap pandangan tertentu seperti ideologi kegamaan. Perihal radikalisme yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini yang mengatasnamakan agama, justru secara tidak sadar mereka telah membenci ajaran agama mereka sendiri. Seperti di Islam misalnya, dalam Islam tidak ada ajaran yang menyuruh untuk melakukan aksi-aksi radikalisme dan terorisme. Menurut Romo Magniz, Islam itu ajaran yang ramah dan santun. Jika terjadi aksi-aski radikalisme yang mengatasnamakan Islam, itu yang salah adalah persepsi seseorang tersebut tentang ajaran Islam.

Pembicara yang lainpun mengemukakan hal yang senada, seperti Dody Susanto yang mengemukakan bahwa akar radikalisme di Indonesia adalah budaya distrust yang berjalan dengan eksponensial di dalam lini masyarakat. Ekses dari budaya distrust tersebut adalah timbulnya kecurigaan antar masyarakat yang kemudian akan menimbulkan kegamangan dalam kehidupan masyarakat. “Radikalisme juga timbul akibat ekses kegamangan gerakan kemanusiaan dan persaudaraan” tandas Dody. Lanjutnya jika hal itu dibiarkan akan menjadi gunung es disharmonisasi kehidupan masyarakat yang berbahaya. Oleh sebab itu, harus ada reformulasi untuk menggagas kehidupan masyarakat yang lebih harmonis dan toleran. Seperti menghapus stigma mayoritas dan minoritas dalam masyarakat.

Atas semua permasalahan radikalisme yang terjadi saat ini, Musdah Mulia menguraikan beberapa solusi yang bisa digagas. Diantaranya adalah sebagai berikut: pertama, rekonstruksi budaya. Kita perlu merubah budaya kekerasan menjadi budaya toleran. Kedua, rekonstruksi pendidikan formal. Karena pendidikan formal saat ini mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi mengalami disorientasi terhadap ajaran-ajaran toleransi. Yang berkembang justru ideologisasi siswa-siswa terhadap faham-faham fundamentalisme yang sangat mengerikan. Ketiga, reinterpretasi ajaran agama. Ajaran agama saat ini difahami hanya sebatas tekstual saja. Agama terasa kering dan miskin substansi. Nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi menjadi tergerus dengan aspek legal formalistik ajaran agama.

3 comments

  1. Kengototan jemaah GKI Yasmin bukan radikalisme?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*