Gayatri W Muthari: Parma Kampung Halaman Santo Conforti

Kamis, 28 September 2011

Penulis saat di Roma

Pagi yang sejuk berubah menjadi hangat, begitu cepat pada hari itu. Saya harus mengakui bahwa sesekali saya khawatir juga dengan cara mengemudi Romo Matteo saat menuju Parma (dan saat kembali dari Parma) dari Pizzighettone. Diam-diam saya berdoa, “Ya Mahdi Adriqnii” beberapa kali sewaktu mobil yang dikemudikan membunyikan alarm tanda Romo Matteo telah melampaui batas kecepatan yang diizinkan. Tetapi, rupanya saya terlalu mengantuk dan tertidur juga selama beberapa saat sebelum akhirnya sampai di Parma. Parma, kampung halaman Santo Conforti, selain tentu juga saya kenal nama ini dari nama klub sepakbolanya di Liga Italia.

Di Parma, saya mengunjungi salah satu biara Xaverian terbesar di Italia, tempat  Santo Conforti kini dimakamkan. Kemudian, saya bermalam di gedung para suster Xaverian. Saya beruntung Romo Matteo mau memandu saya mengelilingi biara modern tersebut. Di salah satu ruangan, misalnya terdapat foto-foto dari berbagai penjuru dunia, dari tempat-tempat dimana para misionaris Xaverian ditugaskan. Tentunya ada banyak foto-foto dari Indonesia, seperti orang-orang berpakaian adat. Juga di suatu koridor yang panjang terdapat foto-foto para martir baik para pastor, suster maupun orang awam keluarga besar Xaverian, serta potret para pastor yang pernah menjadi pejabat-pejabat teras Xaverian: termasuk potret Romo Marini, guru kesayangan saya! Romo Fransesco Marini, dengan lukisan saat beliau masih muda, dikenal sebagai pribadi yang hangat, cerdas sekaligus kritis. Di atap gereja, ada ruangan khusus yang memajang foto-foto hitam-putih tentang para misionaris Xaverian perdana, termasuk foto-foto Santo Conforti. Sementara itu, di ruang makan, saya terkagum-kagum oleh lukisan “Perjamuan Terakhir” yang diwakili oleh 12 pastor Xaverian, dan salah satu dari mereka mewakili Yesus. Beberapa lukisan lain juga nyaris serupa, beberapa pastor Xaverian mewakili sosok Yesus, atau kaum kerabat mereka mewakili sosok Bunda Maria, Santo Yusuf, dan lain-lain.

Gereja di biara Xaverian di Parma ini merupakan gereja bergaya modern, benar-benar bercitarasa kontemporer, dengan lukisan ikon Tuhan Bapa, Yesus dan bunda Maria yang berwarna-warni. Di belakang altar, terdapat makam St. Conforti, berhiaskan patung jasad sang santo yang sedang berbaring damai, sebagaimana lazimnya makam-makam para santo lainnya. Tidak lupa juga lilin  untuk doa, dan potongan kain dari pakaian sang santo untuk mereka yang ingin melakukan doa perantaraan/syafaat melaluinya, yang dipercayai karena kedekatannya dengan Tuhan maka Tuhan akan mengabulkan doanya.

Guido Maria Conforti lahir di Ravadese, di Parma, Italia pada 30 Maret 1865 dan dibaptis pada hari yang sama. Beliau telah mengikuti sekolah di seminari sejak berumur 11 tahun. Pada tahun 1888, St Conforti menjadi pendeta, dan bertugas di Parma. Pada tahun 1895, St Conforti mendirikan Misionari St. Xavier, dengan cita-cita melakukan penginjilan dan kristenisasi kepada kaum non-Kristen di Asia, khususnya di China. Pada tahun 1902, St Conforti diangkat sebagai Archbishop/Uskup di Ravenna, Italia. Kemudian, pada tahun 1907 beliau kembali ditugaskan di keuskupan Parma. Pada tahun 1928 St Conforti pergi ke China untuk membangun komunitas misionarisnya. Pada 5 November 1931 St Conforti wafat. St Conforti meyakini bahwa Injil mestilah disebarluaskan kepada seluruh dunia dan tugas setiap orang Kristen untuk menyebarkan ajaran-ajaran Injil ini, bukan hanya tugas para pendeta dan biarawan. Pada tahun 1996, Maret 17,  Guido Maria Conforti resmi menjadi beatta disahkan oleh Paus Yohanes Paulus II. Sedangkan pada tahun 2011, Februari 21, Conforti resmi ditetapkan sebagai santo oleh Paus Benekditus XVI.

Adalah menarik mencermati riwayat singkat Sang Santo yang memiliki tatapan mata dan senyuman lembut  ini. Ketika masih sekolah dasar, setiap beliau pulang dari sekolah, beliau melewati sebuah patung salib, dan pada suatu hari saat berdoa di hadapannya, beliau mendengar suara panggilan untuk mengabdi kepada Tuhan. Sejak itulah ia menjalankan hidupnya hanya untuk memenuhi panggilan Tuhan. Itu sebuah salib yang sederhana saja, dari kayu, dan dengan patung Yesus yang tidak diukir dengan berlebihan. Saya melihat replika kayu salib itu yang dipajang di sebelah kiri altar, dekat makam sang santo.

Tiba-tiba kembali teringat dengan gurauan saya dengan Romo Matteo bahwa kami saling mengkristenkan dan saling mengislamkan satu sama lain. Saya pernah membaca salah satu misi para misionaris Xaverian di Asia pada zaman globalisasi ini adalah melakukan dialog antar iman, suatu misi yang telah melampaui cita-cita Sang Santo yang secara sederhana adalah untuk menyebarluaskan Injil dan secara sempit dipandang sebagai melakukan kristenisasi kepada mereka yang bukan Kristen. Di Eropa sendiri, misi mereka antara lain menumbuhkan kesadaran mereka yang tidak lagi percaya dan meninggalkan Tuhan. Sudah pasti hal-hal ini merupakan misi-misi yang lebih relevan dalam menjawab tantangan zaman. Saya sendiri sering mengutip ungkapan seorang ayatullah yang diriwayatkan oleh mursyid saya, sebelum menjadi seorang Muslim, seseorang itu terlebih dahulu menjadi seorang Kristen (baca: pengikut Yesus). Jadi, sebagai  Muslim saya justru merasa gembira diingatkan kembali oleh saudara-saudara Kristiani tentang ajaran-ajaran Yesus dalam Injil, terutama dalam kemanusiaan dan sosial, serta etika Katholik yang penuh disiplin, penuh kasih sayang dan optimistik menyambut Kerajaan Tuhan yang kekal pada masa akan datang.

Tentu, saya meyakini gambaran masa depan yang berbeda daripada gambaran masa depan saudara-saudara Katholik saya. Tetapi, satu yang pasti dari gambaran masa depan kami yang berbeda ini adalah ia sama-sama masa depan yang bahagia, damai, adil dan sejahtera di muka bumi.

Hari itu, saat kami tinggalkan Parma, kembali menuju Cremona, saya menemukan langit yang menaungi kami sama birunya dengan langit yang menaungi kami saat kami masih di Indonesia. Begitu pun matahari dan cahayanya yang terang-benderang.

Gayatri W. Muthari adalah Mahasiswi Jurusan Filsafat Islam di The Islamic College Jakarta. Saat ini sedang mendapatkan beasiswa di Universitas Gregoriana Roma dan Universitas St. Thomas Aquinas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*