Gayatri W Muthari: Menyaksikan Kanonisasi Santo Guido Maria Conforti

Sabtu, 22 Oktober 2011

Gayatri W Muthari

Roma hari ini begitu cerah, dengan matahari yang mau menyembulkan diri dan memberikan sedikit kehangatan di musim gugur yang sejuk ini. Padahal, dua hari lalu hujan mengguyur Roma, seakan dengan penuh semangat membasahi segenap penjuru kota, sampai perlu menggenangi Colloseum yang umurnya ribuan tahun lebih tua daripada saya.

Walau dengan segenap rasa kesepian saya memberanikan diri berangkat sendirian naik bus dari Via Claudia menuju teater di Don Orione untuk menyaksikan persiapan menjelang pesta kanonisasi Guido Maria Conforti. Saya tidak ingin membiarkan rasa kesepian ini menghalangi keberangkatan saya, melewatkan acara penting ini. Beliau adalah pendiri Misionaris Xaverian. Di Jakarta, saya juga mempunyai sahabat-sahabat dari Xaverian, yaitu Romo Fransesco Marini dan Matteo Rebecchi, mereka adalah orang Italia tetapi saya menemukan kecintaan mereka yang tulus kepada Indonesia. Di antara keteguhan mereka untuk mewujudkan dunia yang damai, adalah perhatian khusus mereka di tanah tempat mereka mengabdi, di Indonesia, yaitu dengan selalu aktif mendukung dan mendampingi kami dalam kegiatan-kegiatan ICRP.

Saya berhenti di halte bus sesuai petunjuk dari situs yang semalam saya baca untuk menemukan tempat tujuan. Kemudian, saya sempat tersesat karena agak bingung harus belok ke arah mana. Saya mencoba mencari-cari orang bertopi kuning dengan tanda Xaverian, dan akhirnya di perempatan sebuah jalan, saya menemukan sepasang orang tua menggenggam topi kuning dengan syal bertanda Missionari Xaverian. Dengan hangat, mereka menggenggam tangan saya dan menuntun saya menuju teater sambil menyebut nama salah satu pastor yang ditugaskan di Indonesia, dan dengan bangga saya menyebut guru saya Romo Marini dan sahabat saya Roma Matteo. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba juga di Teater Orione.

Beberapa calon pastor Xaverian dari Indonesia ikut mengambil bagian dalam pertunjukan di Teater Orione ini. Di antaranya bermain biola, gitar dan menyanyi. Tanpa direncanakan, saya mendapat duduk dekat dengan salah satu mahasiswa dan pastor muda Xaverian, Romo Rubi, dari Indonesia, dan pastor Xaverian dari Italia yang pernah lama bertugas di Indonesia.

Pertunjukan untuk perayaan pada hari ini berlangsung dua kali, karena banyaknya peserta kanonisasi, maka dibagikan kepada dua kelompok. Saya ikut kelompok pertama, karena saya khawatir akan pulang kemalaman. Setelah acara selesai, saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa pastor Xaverian dari Indonesia yang ditugaskan ke berbagai negara, Perancis, Kolumbia, dll.

Pertunjukan itu sendiri merupakan drama musikal yang menggambarkan kisah hidup Guido Maria Conforti. Di sela-sela drama, anak-anak muda Italia itu juga menari beberapa macam tarian dari negara-negara tempat kegiatan kaum misionaris Xaverian berada. Representasi tarian dari Indonesia agaknya diwakili oleh musik dangdut yang seirama dengan tarian dari  India. Formasi tarian tersebut dibagi ke dalam beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mewakili wilayah tempat Xaverian melakukan misi mereka.

Saya merasa cukup terhibur, dan melihat pada hari itu beberapa orang mengenakan kemeja batik walaupun sebagian yang memakai justru bukan rombongan dari Indonesia melainkan para pastor Xaverian. Rasanya negeri ini tidak lagi begitu jauh dari negeri saya. Ah! Rasa kesepian saya akhirnya terobati sedikit setelah berjumpa dengan keluarga Xaverian dari Cremona, yaitu ibu dari Romo Matteo dan teman-teman beliau dari Cremona. Senang rasanya karena mereka masih mengingat saya. Akhirnya, dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, Lay Centre, saya merasa tidak sabar lagi untuk menyaksikan pesta akbar bagi keluarga besar Xaverian ini.

Ahad, 22 Oktober 2011

Dari jendela kamar saya, tepat di atas biara para rahib Pasionis, tampak langit perlahan demi perlahan menjadi terang. Pohon-pohon yang hijau, dengan langit yang biru, dengan gedung-gedung tua saujana mata memandang, dan dengan burung-burung yang bernyanyi sambil terbang melayang, mereka selalu menyambut hari-hari saya, mengubah rasa sunyi yang menyiksa, menjadi kawan yang paling setia.

Jam 8 tepat saya dan Jan Vancura (baca: Yan Vakura) meninggalkan Lay Centre menuju Gereja St. Peter. Kami memutuskan berjalan kaki sampai Piazza Venezia untuk naik bus menuju St. Peter. Perjalanan dari Lay Centre menuju Piazza Venezia terbilang jauh untuk ukuran orang Jakarta, yang terbiasa pergi ke mana-mana dengan ojek, angkot dan metromini untuk jarak dekat sekalipun. Tetapi, tentunya, perjalanan kaki yang kami tempuh sangat nyaman, apalagi melewati Colosseum yang pagi itu masih sepi dari turis, Fori Imperiali yang masih bagai tertidur,  dan jalanan yang masih lengang. Cuaca hari itu lumayan dingin sekitar 18 derajat celcius.

Teman serumah saya ini, Jan, adalah dosen muda asal Cheko, Katholik taat, berbakat dalam sepak bola, dan tampaknya sangat mengagumi nilai-nilai kekeluargaan orang Timur. Dia sedang menyelesaikan doktornya di bidang perkawinan atau matrimornial di salah satu universitas pontifical di Roma, tetapi dia sendiri masih melajang di usianya yang ke-36 tahun. Saya acap kali mengritik orang-orang Eropa yang  menunda perkawinan sampai menunggu umur terlalu tua untuk memiliki anak dan merawatnya. Di Italia juga, sepuluh tahun yang lalu kelas-kelas di sekolah dasar bisa mencapai tiga puluh orang. Tetapi sekarang, isinya hampir setengahnya, dan bahkan sebagian besar muridnya adalah anak-anak para imigran, khususnya imigran Muslim. Di samping itu, pemandangan orang atau pasangan yang berumur 40-an tahun dengan anak-anak masih balita lazim saya jumpai.

Jam 9 pagi, kami akhirnya tiba di Piazza St. Peter dan menemukan lapangan katedral terbesar di dunia ini telah penuh oleh manusia dengan topi kuning, putih dan biru dan banner-banner yang melambangkan mereka merupakan keluarga dari salah satu santo yang akan dikanonisasi hari itu. Saya akhirnya berhasil menghubungi Romo Matteo, dan kami duduk bersama-sama satu baris dengan beberapa biarawati yang mengenakan ‘habit’ yang khas (habit: pakaian yang secara tradisi dikenakan para biarawati menurut ordo masing-masing). Saya selalu tertarik mengamati aneka ‘habit’ para suster dan biarawati. Sebagai pemakai kerudung, atau jilbab, saya merasa begitu nyaman berada di jalanan Roma dengan model jilbab yang saya kenakan. Sering sekali saya juga dianggap sebagai seorang sister atau biarawati. Selain itu, pemandangan para biarawan dan pastor dengan jubah beraneka warna – hitam, abu-abu, coklat, atau hijau – juga sangat lazim saya temukan di sekitar Vatikan dan di Roma, di daerah di mana terdapat banyak universitas pontifical.

Saya tidak begitu yakin suhu udara pagi itu, tetapi saya yakin pagi itu Vatikan sangat dingin, pastinya di bawah 16 derajat celcius. Walau begitu matahari bersinar terik menyilaukan, dan lambat-laun suhu akhirnya meningkat dan menjadi lebih hangat. Saya beruntung bertemu Romo Matteo di tengah kerumunan manusia ini karena beliaulah yang menerjemahkan setiap prosesi yang berlangsung dalam bahasa Italia itu. Jan, karena dia sedang belajar bahasa Italia, saya tidak yakin dia akan bisa menerjemahkan sebaik Romo Matteo.

Hari itu, semestinya Romo Matteo dan beberapa pastor Xaverian bertugas memberi komuni kepada jemaat misa yang hadir. Maka, Romo Matteo telah bersiap dengan pakaian pendetanya, yang menurutnya  belum pernah mengenakannya lagi sejak ditahbiskan belasan tahun lalu. Beberapa pastor muda Xaverian bertugas di bagian depan dengan pakaian pendeta berjubah hitam sebagai perwakilan Xaverian. Menurut salah satu pastor muda, Romo Matteo seharusnya juga bersama mereka mengenakan jubah hitam, tetapi karena sulit dihubungi akhirnya tidak jadi. Romo Matteo sedang berlibur di rumah keluarganya di Pizzighettone, walau begitu beliau juga meluangkan waktu libur untuk menjumpai para aktivis Focolare dan kegiatan keagamaan lainnya di kota-kota lain di Italia.

Di tengah-tengah acara, kami menemukan seorang pria memanjat ke atap gedung dan berdiri di tepi atap gedung sambil memanggil-manggil Sri Paus. Sekitar jam 12 ketika misa telah berakhir, kami menemukan  dia sudah tidak ada, mungkin pengawal-pengawal  telah berhasil menyelamatkan pria tersebut dari melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri itu.

Acara kanonisasi ini sendiri dimulai dengan perkenalan tiga orang santo baru yang hari itu dikanonisasi yaitu: Guido Maria Conforti, pendiri Xaverian, Luigi Guanella pendiri Kongregasi The Servants of Charity, dan Bonifacia Rodriguez de Castro, pendiri Kongregasi (wanita) di St.Joseph.

Setelah perkenalan tersebut, Sri Paus hadir untuk memimpin misa, perayaan ekaristi dan doa syafaat melalui perantaraan para santo serta kidung dan doa puja-puji, khususnya atas kanonisasi tiga orang santo tersebut.

Secara singkat, santo adalah orang suci atau dalam tradisi Islam disebut wali Allah yang memiliki kelebihan karena kedekatannya dengan Tuhan. Dalam kalangan Katholik, ia bisa siapa saja, tidak mesti seorang pastor, pendeta, suster atau biarawan. Pada masa kini, sebelum menjadi seorang yang disahkan secara formal oleh Gereja sebagai santo, seorang yang dianggap memiliki kelebihan karena kedekatannya dengan Tuhan ini diberi gelar beatto atau beatta.  Biasanya, orang yang menderita sakit dan divonis tidak ada harapan sama sekali oleh dunia medis, tetapi kemudian sembuh berkat doa melalui perantaraan orang-orang yang dekat dengan Tuhan ini, maka kemudian Gereja melakukan penyelidikan dengan tim khusus untuk membuktikan kebenaran cerita dan kasus tersebut. Setelah itu barulah mereka disebut beatto (laki-laki) atau beatta (perempuan). Beberapa beatta dari kalangan awam yang saya ketahui misalnya adalah Chiara Lubich, seorang gadis aktivis Focolare yang wafat pada usia 20-an tahun karena suatu penyakit, dan seorang ibu yang wafat karena mempertahankan kandungannya walaupun ia menderita kanker.

Apabila sudah terdapat mukjizat yang semakin menguatkan bahwa orang tersebut dekat dengan Tuhan (karena itu melalui doa mereka, Tuhan mengabulkan) serta melalui penyelidikan menyeluruh pula, Gereja menetapkan mereka sebagai Santo. St. Conforti sendiri ditetapkan sebagai beatto antara lain karena sembuhnya seorang anak di Burundi, Afrika setelah divonis tidak ada harapan oleh medis dan keluarganya berdoa melalui perantaraan St. Conforti.

Setelah seorang anak dari Brazil juga mengalami mukjizat doa yang sama, akhirnya Gereja menetapkan beliau sebagai seorang santo. Proses yang cukup panjang itu, mungkin, yang membuat  keluarga besar mereka yang menjadi santo dengan bangga dan sekaligus penuh rasa syukur memperingatinya dengan meriah. Keluarga besar Xaverian tidak terkecuali. Tentu, dengan harapan bahwa kanonisasi ini memberikan suri tauladan kepada generasi penerus bahwa jalan untuk dekat di sisi Tuhan selalu ada dan tidak pernah tertutup bagi siapa pun. Juga, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang merasa putus asa dan hilang harapan saat mereka sungguh-sungguh berdoa. Hari itu, misalnya, tidak sedikit saya menjumpai para pastor Xaverian yang berwajah bule, tapi berbaju batik, dengan sumringah menyambut kanonisasi St Conforti dengan penuh semangat dan penuh harapan untuk meneruskan pengabdian sang santo di tanah-tanah misi mereka, yang tak jarang, sangat jauh dari kampung halaman mereka tercinta – dengan resiko tak akan kembali pulang, gugur dan atau hilang tanpa kabar, seperti para martir Xaverian pendahulu mereka di China, dan negeri-negeri lain di Afrika.

Pada saat kami berpisah hari itu selepas misa, Romo Matteo mengundang saya mengikuti acara pada hari berikutnya yaitu pelepasan para misionaris yang akan berangkat ke tanah misi mereka. Kemudian, saya merespon sambil bergurau, bahwa mereka akan melakukan Kristenisasi di tanah misi mereka. Romo Matteo mengiyakan, dan saya kemudian teringat bahwa selama ini kami telah melakukan -isasi- kepada satu sama lain, terutama ketika kami mengikuti Sekolah Agama tiap sebulan sekali di ICRP. Sadar atau tidak sadar, kita sering bersikap seolah ingin mengubah agama lawan bicara kita menjadi sama dengan agama kita dalam pembicaraan yang kita sampaikan. Misi yang terselubung atau yang tak secara sadar kita memang harapkan. Bahkan, mungkin walaupun agama kita bukan agama misi atau agama dakwah. Romo Matteo memang pernah bergurau bahwa beliau selalu mengkristenkan saya, dan saya selalu mengislamkan beliau.

Dalam perjalanan pulang, tersenyum sendirian saya mengingat gurauan Romo Matteo mengatakan bahwa nyanyian pada misa yang dipimpin Sri Paus itu adalah nyanyian yang akan disenandungkan orang-orang Katholik di Surga nanti, dan saya membalas dengan “surga kamar nomer berapa?”. Komentar ini saya ambil dari anekdot ustadz Yusuf Daud yang terkenal di kalangan teman-teman Sekolah Agama. Surga dengan kamar khusus bagi masing-masing umat agama. Ah, betapa manusia sering mengurusi dan menilai sesama manusia akan masuk surga atau neraka. Padahal, Surga dan Neraka adalah hak mutlak Tuhan dalam menentukan. Saya percaya bahwa bukan karena agama, seseorang masuk surga atau neraka, atau mendapat keselamatan, melainkan itu sepenuhnya atas kehendak Tuhan.

Saya teringat dalam al-Qur’an misalnya disebutkan:

Al-Baqarah 62: “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”

Al-Maidah 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi’un, dan Nashara, barangsipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun mengamalkan yang saleh. Maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”

Buya Hamka, misalnya, menafsirkan (dalam Tafsir al-Azhar): “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu (Hal. 211).

Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan oleh ayat 85 surat surat Ali ‘Imran: “Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Hlm. 217). Menurut Hamka ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu: “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.” (Hlm 217).  “Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu dakwah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.” (Hlm. 217).

Malam itu saya kembali ke rumah, terngiang-ngiang nyanyian saat berada di piazza St.Peter, teringat pula saat berziarah di makam Santo Peter sesudah misa kanonisasi hari itu. St. Peter adalah santo yang  juga dihormati oleh kaum pencinta Ahlulbayt (as). Di rumah, saat bertemu Jan kembali, ia berterimakasih karena hari itu juga kali pertama ia menyaksikan misa kanonisasi. Malam itu, sebagai seorang pencinta Ahlulbayt (as) saya berdoa dengan penuh keyakinan, semoga segera terwujudnya damai nan adil yang sejati di muka bumi ini di bawah naungan pimpinan sang imam,  keturunan St Peter dan juga keturunan Junjungan Nabi kami. Amin.

Gayatri W. Muthari adalah Mahasiswi Jurusan Filsafat Islam di The Islamic College Jakarta. Saat ini sedang mendapatkan beasiswa di Universitas Gregoriana Roma dan Universitas St. Thomas Aquinas

3 comments

  1. terima kasih Ibu Chen. Senang membaca laporan yang begitu bagus dari Italia. Nanti kami ingin mendengar langsung, ya! salam

  2. saya garis bawahi kalimat penulis: “dan saya kemudian teringat bahwa selama ini kami telah melakukan -isasi- kepada satu sama lain, terutama ketika kami mengikuti Sekolah Agama tiap sebulan sekali di ICRP. Sadar atau tidak sadar, kita sering bersikap seolah ingin mengubah agama lawan bicara kita menjadi sama dengan agama kita dalam pembicaraan yang kita sampaikan”

    sepanjang pengalaman saya menghadiri sekolah agama ICRP, di dalam forum tsb saya tidak pernah merasa maupun melihat ada dari peserta yg melakukan -isasi- spt yg ibu gayatri bagi dlm tulisan ini.
    klupun si penulis merasa spt itu dg salah satu rekannya yg hadir dlm forum tsb yg kebetulan tdk seiman dg ibu gayatri, mungkin saja hal tsb bisa terjadi. tapi sepanjang saya mengikuti kegiatan2 ICRP termasuk salah satunya adl sekolah agama, saya tdk pernah memiliki pegalaman tsb. tp klu pengalaman berbagi ttg ajarannya spt apa dan hukumnya spt apa dlm agama masing2, saya rasa itu tidak bisa dikategorikan sbg isasi, tp lbh kpd berbagi pengetahuan, itu pun dg catatan ada teman dr agama lain yg bertanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*