Tingkatkan Moral Bangsa Dengan Semangat Idul Adha

Minggu, 6 November 2011 bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1432 H, umat Islam tengah gegap gempita merayakan hari raya Idul Adha. Meskipun terdapat sebagian umat islam yang merayakan dihari yang berbeda. Seperti Jamaah Tarikat Naqsabandiyah Khalidiyah Mujadadiyah Al-Aliyah dan Jamaah an-Nadzir yang melaksanakan shalat Idul Adha Senin (7/11/2011) pagi ini. Tetapi itu semua tidak mengurangi semangat, nilai, dan substansi Idul Adha.

Selain hari raya Idul Fitri, Idul Adha atau hari raya qurban merupakan sebuah moment yang istimewa bagi umat Islam. Karena pada hari tersebut diperingati peristiwa pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya yang tercinta Nabi Ismail AS atas perintah Allah SWT. Begitu kuatnya iman Nabi Ibrahim sehingga beliau merelakan untuk mengorbankan putranya yang begitu dicintainya. Pasalnya, Nabi Ibrahim begitu lama menanti-nantikan seorang keturunan. Sampai berumur 86 tahun beliau baru mendapat seorang keturunan Isma’il. Tetapi iman Nabi Ibrahim lebih kuat dari pada cintanya kepada putranya. Begitu juga dengan Isma’il yang merelakan diri untuk dikorbankan atas perintah Allah SWT.

Atas ketulusan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Isma’il AS itulah kemudian Allah SWT menggantikan Ismail AS dengan seekor domba untuk dikorbankan. Atas peristiwa bersejarah itulah hingga saat ini moment itu selalu dikenang dan diperingati seluruh umat muslim di dunia dengan istilah hari raya qurban. “Bagi umat Islam yang mampu, disyari’atkan berqurban, yaitu menyembelih hewan qurban berupa sapi atau kambing.” Tandas Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing, HT., M.S Rektor Alauddin Makassar yang menjadi khatib Idul Adha di Masjid Istiqlal Jakarta.

Dalam Khutbah Idul Adha di Masjid Istiqlal tersebut Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing, HT., M.S menegaskan supaya bangsa indonesia kini memanfaatkan moment hari raya qurban untuk berefleksi atas segala problematika bangsa. Paling tidak ada lima masalah besar yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia untuk diselesaikan.

Pertama, penegakan hukum dan pemberantasan KKN. Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing dalam khutbah minggu kemarin menegaskan bahwa Islam sangat tegas dan jelas melarang perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebuah kisah seorang khalifah bernama Umar Bin Abdul Aziz sedang mengerjakan tugas negara diruanganya pada waktu malam hari, untuk penerang ruangan saat itu menggunakan lampu minyak yang dibiayai negara, kemudian istri sang kholifah ingin berbicara kepada khalifah Umar Bin Abdul Aziz tentang masalah pribadi. Seraya sang khalifahpun berkata “matikan lampu yang terdapat minyak negara, dan nyalakan lampu anda sendiri.” Kisah teladan ini bisa menjadi koreksi bagi kita semua, terutama bagi orang yang sesekali mempergunakan “minyak negara”.

Kedua, persaudaraan bangsa. “Selama ini, yang sering diajarkan dan ditonjolkan di forum-forum dakwah hanya ukhuwah islamiyah. Padahal selain ukhuwah islamiyah ada ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah.” Tegas Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing dalam khutbahnya. Jika ukhuwah islamiyah adalah persaudaraan karena islam, maka ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan yang dilatarbelakangi semangat berbangsa, bernegara dan bertanah air. Sedangkan ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang terjalin atas semangat sosial kemanusiaan. Ketiga-tiganya harus dikuatkan untuk kesejahteraan dan perdamaian manusia.

Ketiga, berbagi itu nikmat. Rasulullah SAW bersabda:  tidaklah beriman seseorang bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Dari hadits ini bisa ditarik sebuah konklusi bahwa orang yang mempunyai iman dan ketakwaan itu tidak cukup hanya beribadah dengan tekun tetapi juga harus hidup bersosial dengan santun, saling tolong menolong, teposliro, tenggang rasa, dan berbagi kasih.

Keempat, penyelamatan lingkungan. Lingkungan mendapatkan posisi penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya Islam memerintahkan berbuat al-adl (adil) dan al-ihsan (baik) bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada alam. Rasulullah SAW pernah bersabda: ”sekiranya kiamat datang, sedang ditanganmu ada anak pohon kurma, maka jika dapat (terjadi) untuk tidak berlangsung kiamat itu sehingga selesai menanam tanaman, maka hendaklah dikerjakan (pekerjaan menanam itu) (H.R. Ahmad, dari Anas bin Malik)

Kelima, pengembangan karakter bangsa. Situasi serta kondisi bangsa Indonesia saat ini begitu miris dan paradoksional dimana orang yang melakukan praktik korupsi, kolusi dan nipotisme serta melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum kelas kakap merupakan mereka yang berwawasan, berintellektual, dan berpendidikan tinggi. Hal ini karena intellektual dan pendidikan yang tinggi ini tidak diimbangi dengan karakter jujur dan bersih. Pada titik ini agama dapat menempatkan posisinya dengan penjaga gawang norma dan nilai-nilai keimanan, kejujuran, serta menumbuhkan karakter-karakter bangsa yang kuat, bersih, dan adil.

Dengan semangat idul qurban ini, mari kita bersama merefleksi keimanan kita serta merefleksi kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara yang arif, santun, jujur dan berkarakter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*