Sanatana Dharma, Untung Suropati dan Empu Tantular

Sekolah Agama ICRP : “FKUB dalam Perspektif Umat Hindu Indonesia”

Oleh : Chris Poerba

“Saat ini tengah terjadi pengecilan otak, jadi otak kita tengah dibikin kecil, maka itu sering-seringlah mendengar kidung-kidung dari umat Hindu”, ujar Pedanda Panji Sogata. Dengan sedikit bergurau beliau mengatakan itu. Selain sebagai rohaniawan Hindu, beliau juga menjadi wakil dari umat Hindu yang duduk di FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Jakarta. Beliau sengaja dihadirkan dalam Sekolah Agama ICRP yang bertema “FKUB dalam Perspektif Umat Hindu Indonesia”, tanggal 16 November 2010. Sebelumnya memang Sekolah Agama ini telah pernah mengundang para anggota FKUB yang berasal dari umat Islam, Kristen juga Katolik.

Komplek ABRI

Apakah umat Hindu di Jakarta juga mengalami penutupan rumah ibadah seperti yang dialami oleh umat lain akhir-akhir ini? Panji Sogata yang biasa dipanggil dengan Pedanda, yang berarti pendeta itu mengatakan, “Selama ini kami belum ada masalah dengan pelarangan Pura bagi umat Hindu. Mungkin karena hampir semua Pura-Pura berada di komplek ABRI dan Polisi dan hanya satu yang berada di Rawamangun dan itu pun dibangun atau diusulkan oleh tentara. Kalau gak salah menteri PU waktu itu adalah Sutami”.

Pedanda yang kelahiran tahun 46 atau tahun 70 Saka itu, juga mengatakan, “Jadi ijinnya juga ijin tentara dan belum punya surat ijin bangunan”. Lebih lanjut lagi, menurutnya jumlah Pura yang sudah ada di Jakarta, berjumlah sekitar 20-an, sedangkan untuk Jabotabek ada sekitar 30-an, yang sudah sebanding dengan jumlah umat Hindu di Jakarta, yang telah dilaporkan sebesar 125 ribu jiwa. Selama ini umat Hindu tidak pernah mengalami diskriminasi. Menurutnya, secara umum pembangunan rumah ibadah tidak ada hambatannya, namun karena banyak yang belum memahami maka terjadilah pelarangan rumah ibadah tersebut, katanya, “RT saja gak tahu, trus biasanya ada provokasi yang berasal dari luar”.

Pedanda yang sekitar tahun 1968 pernah menjadi petinju ini, juga mengisahkan kalau di Cilincing ada sebuah Pura Dalem yang berada di jalan. Pura ini pernah akan di buldoser tapi setelah diberikan penjelasan kalau itu merupakan sebuah pura yang didalamnya memang terdapat sebuah pemakaman atau kuburan maka sekarang kondisinya sudah aman-aman saja. Di Bali sendiri ada Kampung Islam yang lokasinya di Karang Asem dan sampai sekarang tidak ada masalah. Menurutnya, “Masalah–masalah yang ada di Karang Asem sekarang ini terkait dijualnya tanah dengan adanya sertifikat. Padahal kan gak bisa karena tanah itu pemberian dari raja”, ujarnya.

Sungai Sindhu

“Diskriminasi yang terjadi biasanya hanya kecil-kecilan. Masa sudah tahu kalau namanya Putu tapi dituliskan dengan agama yang bukan Hindu. Seharusnya kan ditanya dulu agamanya apa?”, kata Pendeta Hindu ini. Tapi memang di Jakarta selama FKUB ada tidak pernah ada konflik dan diskriminasi kepada orang Hindu. Hal ini dimungkinkan karena sejak dulu sekitar abad 17, sewaktu bernama Batavia, memang sepertiga penduduknya adalah orang Hindu dan orang Bali. Karena itu banyak bahasa yang dekat dengan istilah Bali seperti kata demen, girang termasuk semua kata yang berkahiran –in. Pahlawan yang dikenal di Batavia juga berasal dari Bali, namanya Untung Surapati.

Menurut Panji Sogata, yang baru menjadi Pedanda tahun 2004, “FKUB belum sepenuhnya merdeka, termasuk dalam hal pendirian rumah ibadah. Bahkan belum banyak yang tahu kalau FKUB ini dibentuk oleh masyarakat bukan oleh pemerintah. Hanya saja fasilitasnya dari pemerintah. Jadi FKUB ini belum dipahami bersama. Sosialisasi ini terbentur oleh dana. Uang transportnya hanya 50 ribu rupiah itu masih dikurangi pajak”.

Sedangkan keterwakilan Hindu di dalam forum FKUB sendiri juga masih kurang. Selama ini dalam FKUB Jakarta hanya terdapat satu orang wakil dari umat Hindu, Budha dan Khong Hu Cu, “Jadi kalau ada voting jumlahnya ya tidak seberapa. Sedangkan wakil dari umat Islam sendiri jumlahnya ada sebelas orang”, ujar Pedanda yang juga alumni sekolah tinggi filsafat di bilangan Cempaka Putih ini.

Dirgahayu

Hindu adalah istilah yang diberikan oleh sarjana barat namun sebenarnya agama ini bernama Sanatana Dharma, berasal dari kata Sanskerta, yang berartikan Kebenaran atau Kekekalan Abadi. Sarjana barat sendiri menamakan agama ini Hindu, dari asal kata Sindhu, yang pada awalnya merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah Sungai Sindhu, di India.

Namun secara keseluruhan konsep keselamatan dalam agama Hindu, “Kami mendoakan semua orang, maka doanya adalah Dirgahayu jadi tidak hanya menyelamatkan orang Hindu saja. Untuk itu saya kira semestinya pemerintah siapkan saja semua rumah ibadah karena ini bagian dari fasos (fasilitas sosial) dan fasum (fasilitas umum). Tidak usah pake aturan 60 orang dari penganut dan 90 orang dari pendukung”, kata Pedanda yang merupakan keturunan ke-13 dari Empu Tantular, yang menulis kitab Sutasoma, yang memuat rumusan tentang konsep Bhinneka Tunggal Ika.*)

One comment

  1. rahayu. saya baca artilel yang berkaitan dengan empu tantular dengan takjim. bagus sekali.boleh saya tahu email sang penulisnya.ingin berkenalan saja.salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*