Anwar Ibrahim: Ekspresi Kebebasan Harus Dilindungi

14 Oktober 2010 |

Tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan ekspresi kebebasan dan menyampaikan pendapat harus dijamin dan mendapat perlindungan dari pelbagai pihak, terutama dari negara. “Kebebasan merupakan fitrah yang dibawa manusia sejak ia dilahirkan,” kata Anwar dalam ceramah bertajuk “Kebebasan dan Musuh-musuhnya”, di depan 100-an budayawan dan cendekiawan di Komunitas Salihara, Jakarta, kemarin.
Selain sebagai fitrah, kata Anwar, kebebasan merupakan salah satu nilai yang dijamin dalam agama. Tanpa nilai kebebasan, agama apa pun bakal sulit berkembang karena tidak dipeluk secara luas. Dengan prinsip kebebasan yang berangkat dari fitrah dan nilai agama, Anwar mendorong umat Islam memberikan rasa aman bagi pemeluk agama lain.
Anwar mengatakan, orang Islam harus mampu menegakkan nilai-nilai keislaman yang berangkat dari prinsip rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta) dan meninggalkan praktek kekerasan. Prinsip dan gagasan tentang Islam yang rahmatan lil alamin ini perlu dilembagakan. Tanpa penegakan prinsip ini, eksistensi agama Islam hanya akan dipahami sebagai tirani mayoritas.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Anwar berharap, Indonesia bisa menjadi contoh. “Jangan sampai Islam menjadi tirani mayoritas,” katanya. Anwar menambahkan, pada masa awal perkembangannya, Islam dipeluk masyarakat di berbagai belahan dunia lantaran mampu membebaskan seseorang dari belenggu tradisi yang mengekang.
Mengutip seorang pakar ekonomi, Joseph Schumpeter, Anwar mengatakan, sekiranya keyakinan seseorang tidak sepenuhnya benar tapi ia berani mempertahankan, keyakinan itulah yang membedakan antara manusia yang bertamadun (beradab) dan tidak beradab. Menurut dia, meyakini suatu kebenaran harus didukung sikap yang menjunjung tinggi etika dan moral yang berlaku di masyarakat. Memaksakan suatu keyakinan, apalagi dengan kekerasan, merupakan contoh manusia yang tidak bertamadun.
Kurator dan pendiri Komunitas Salihara, Goenawan Mohamad, mengatakan orasi Anwar Ibrahim dalam Festival Salihara ini merupakan refleksi sebuah kebebasan, ketika politik hanya dimaknai sebatas kekuasaan. “Padahal politik merupakan tugas untuk menegakkan keadilan di negara yang rusak,” katanya.

Riky Ferdianto
TEMPO Interaktif | 12 Oktober 2010

http://salihara.org/community/2010/10/14/anwar-ibrahim-ekspresi-kebebasan-harus-dilindungi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*