Mari Sambut Wirausahawan Gelombang Baru!!


Wirausahawan sosial adalah wirausahawan gelombang baru Indonesia. Mereka membangun bisnis berbasis komunitas dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Representasi terbaik mereka saat ini adalah para pemenang Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Awards dan International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards 2010.

Pada CEC yang merupakan program kerja sama kami dengan Arthur Guiness Fund, yang terpilih sebagai tiga terbaik Wirausahawan Sosial Pemula adalah Fruitanol (Yogyakarta), Aliansi Pro-Agribisnis Pakpak Barat (Medan), dan Wangsa Jelita (Bandung).

Sementara tiga terbaik kategori Madya adalah Komunitas Hong (Bandung), Outreach International Bioenergy (Jakarta) dan Indonesian Pluralism Institute (Jakarta). Pemenang CEC akan mendapatkan dana investasi sosial sampai Rp 100 juta.

Pemenang CEC 2010 Kategori Pemula

Pada ajang IYCE, terpilih sebagai juara kategori Interactive adalah Muhamad Lukman (Bandung), sementara kategori Screen adalah Perdana Kartawiyudha (Jakarta). Mereka akan mewakili Indonesia dalam IYCE 2010 di London, Inggris bulan Oktober mendatang.

Community Entrepreneurs Challenge

Frutanol didirikan oleh Dita Adi Saputra dan kawan-kawannya. Mereka menemukan cara memanfaatkan buah salak untuk menjadi energi bioetanol dan mengolah limbah buah menjadi pupuk organik. Fruitanol direncanakan menjadi perusahaan yang dijalankan oleh komunitas petani sehingga mereka mengenal cara pengolahan limbah salak yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan. Aliansi dibentuk Sabam Malau untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang mahal dan tak ramah lingkungan. Bersama-sama, mereka membuat pupuk ramah lingkungan dari kotoran kelinci. Untuk mendukung hasil temuan mereka, Aliansi Pro-Agribisnis ingin menciptakan peternakan kelinci di Pakpak Barat, yang jika sukses dapat menjadi model baru untuk komunitas pertanian yang berkelanjutan. Wangsa Jelita menggagas perdagangan adil untuk petani bunga, dengan cara memproduksi dan menjual sabun alami sekaligus memberikan bimbingan untuk akses pasar.

Komunitas Hong didirikan oleh Zaini Alif yang memiliki minat yang sangat mendalam terhadap kesenian dan adat Sunda. Zaini meneliti dan menciptakan kembali mainan adat Sunda agar aman bagi anak-anak sekaligus dapat diproduksi secara massal. Outreach International Bioenergy dibangun oleh Elias Tana Moning yang telah lama punya pengalaman dengan minyak jarak. Outreach menerapkan sistem bagi hasil dengan petani Flores. Mereka juga bekerja sama dengan paroki-paroki setempat untuk menyukseskan program. Indonesian Pluralism Institute (IPI) didirikan oleh William Kwan. Selain meneliti batik dan memberdayakan perajinnya di Lasem, Jawa Tengah, IPI juga mengampanyekan nilai-nilai kemajemukan melalui batik. IPI percaya bahwa melalui batik, orang bisa belajar warisan budaya dunia sekaligus menghargai keberagaman.
Pemenang CEC 2010 Kategori Madya
Menurut dewan juri CEC yang terdiri atas Romy Cahyadi, Ipung Nimpuno, Keith Davies, Maria R. Nindita Radyati, dan Ambrosius Ruwindrijarto, semua pemenang CEC menunjukkan potensi yang kuat untuk mengembangkan kewirausahaan sosial berbasis komunitas mereka. “Mereka tak hanya memecahkan masalah sosial dan peduli terhadap lingkungan hidup, mereka juga punya passion yang sangat besar,” kata Ipung Nimpuno dari Arthur Guiness Fund, penyelenggara bersama ajang CEC. Sementara itu, Maria mencatat bahwa konsep dan ide sosial setiap pemenang menggembirakan. Hanya saja, aspek yang perlu dibenahi adalah persoalan teknis berkenaan dengan pengaturan keuangan dan governance plan.

International Young Creative Entrepreneurs

Muhamad Lukman lahir pada 1978 di Jakarta. Ia adalah Head of Design dan pendiri Pixel People Project (www.batikfractal.com), sebuah perusahaan yang membaktikan dirinya untuk riset desain. Proyek terbarunya adalah Batik Fractal, riset yang memadukan matematika, seni tradisonal batik, dan teknologi. Hasilnya adalah jBatik, peranti lunak yang menghasilkan pola batik dari rumus matematika.
Muhamad Lukman

Lukman yang sudah tiga tahun menjalankan usahanya dinilai dewan juri yang terdiri atas Rachman Ibrahim, Hari Sungkari, dan Widi Nugroho sebagai finalis yang paling lengkap dalam menyeimbangkan sisi kewirausahaan dan sosial. Lukman juga dinilai mempunyai passion yang besar di bidangnya. Salah satu yang mengesankan juri adalah upayanya memperkenalkan dunia dijital kepada para perajin batik yang umumnya ibu rumah tangga. Pola batik lazimnya diturunkan dari orang tua ke anaknya. Hanya saja, cara ini membuat pola lazimnya kurang berkembang. Langkah Lukman adalah terobosan karena mengembangkan sekaligus melestarikan pola-pola batik. “Selain itu, kesenjangan dijital berkurang,” kata Hari Sungkari.

Secara umum, Juri IYCE Interactive menyebut munculnya kecenderungan yang menggembirakan dari peserta kompetisi, utamanya para finalis, yaitu besarnya semangat mengangkat warisan budaya lokal. Mereka juga dinilai menguasai pasar dan berani mengambil tindakan. “Potensi mereka besar semua,” kata Rachman Ibrahim, yang pernah menjadi juara IYCE Interactive 2008.

Perdana Kartawiyudha lahir di Mojokerto pada 1985. Ia adalah pendiri Serunya Scripwriting (www.skenario.org), lembaga pertama yang mengkhususkan diri sebagai pusat pelatihan dan pengembangan penulisa naskah. Sejak berdiri pada 2007, Serunya sudah mencetak penulis-penulis baru untuk film panjang, serial televisi, dokumenter, dan sitkom. Pengajar di tempat ini adalah para penulis skenario berpengalaman. Perdana juga pernah mendatangkan pengajar dari Prancis. Dengan cara ini, peserta pelatihan di Serunya bisa belajar banyak gaya penulisan.
Perdana Kartawiyudha

Juri IYCE Screen yang terdiri atas Riza Primadi, Sakti Parantean, dan Nino Sujudi menyebut kemenangan Perdana ditentukan karena alumni IKJ ini meletakkan pondasi penting dalam screen industry. “Semangat edukasi lembaganya juga membuatnya lebih unggul,”kata Riza.
Sakti, juara IYCE Screen 2008, menyebut kompetisi tahun ini sangat ketat. Para finalis dinilainya memiliki keterikatan yang kuat dengan komunitas. Ia melihat hal ini sangat menggembirakan karena ketika ia membangun Hybrid beberapa tahun yang lalu ia merasa sendiri. “Saya ingin segera bekerjasama dengan mereka,” kata Sakti.[]

Untuk link berita dan foto silahkan klik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*