Perempuan di Wilayah Konflik Masih Terabaikan

Perempuan di wilayah konflik masih terabaikan

Konferensi pelaku perdamaian perempuan Asia baru-baru ini menekankan pentingnya perlindungan perempuan baik saat konflik mapun paska konflik seperti tertulis dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) 1325, yang ditetapkan hampir satu dekade lalu.

Konferensi yang berlangsung 29-30 September itu dihadiri oleh 130 peserta yang mewakili sejumlah LSM termasuk dari Afghanistan, Timor Leste, India, Indonesia, Malaysia, Nepal, dan Filipina.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Multicultural Women Peacemakers Network (MWPN), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Women Peacemakers Program-International Fellowship of Reconciliation (WPP-IFOR) bersama mengadakan acara itu dengan fokus pada peran pelaku perdamaian perempuan dalam perspektif lintas iman.

“Berbagai upaya untuk melindungi perempuan di wilayah konflik dan paska konflik, khususnya mereka yang menghadapi kekerasan seksual, mengungsi, diskriminasi dan terpinggirkab secara budaya, agama dan etnik masih terjadi,” kata Yuniyanti Chuzaifah, ketua Komnas Perempuan, yang membacakan deklarasi mereka dalam konferensi pers di akhir konferensi mereka.

Selain perlindungan, peserta juga menekankan dua isu utama, yakni, promosi dan partisipasi.

Dalam kaitan dengan promosi, mereka menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan sebagai agen perdamaian dan menciptakan pemimpin perempuan dalam berbagai komunitas. Sementara itu partisipasi mengutamakan keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam mencegah dan penyelesaian konflik serta upaya-upaya lain dalam rangka paska konflik.

Mereka juga mendesak setiap negara hendaknya membuat rencana aksi nasional untuk memastikan penerapan Resolusi UNSCR 1325. Setiap negara harus memastikan terjadinya reformasi birokrasi dan perlindungan hak-hak perempuan.

Shilera Phor dari Afghanistan berjanji bahwa ia akan membuat rencana aksi memberdayakan perempuan di negaranya. “Kaum perempuan di negaraku menghadapi banyak masalah termasuk pendidikan, anak-anak dan pengungsian,” katanya.

Santina Amaral Fernandez dari Timor Leste memiliki pendapat berbeda. “Peran perempuan dalam meningkatkan perdamaian di negaraku telah meningkat. Kami berbicara tentang perdamaian dalam keluarga dan juga di rana publik,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia akan menyusun rencana aksi karena konflik masih terjadi di negerinya.

Konradus Epa, reporter ucanews.com, Jakarta

www.cathnewsindonesia.com/…/perempuan-di-wilayah-konflik-masih- terabaikan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*