Mengais Harapan Jemaah Ahmadiyah Bogor

Oleh Agnes Dwi

(Catatan investigasi kekerasan Ahmadiyah Bogor)

Matahari mulai menampakkan diri ketika saya bersiap-siap menuju Bogor dengan kereta api. Hari ini adalah kali pertama saya akan datang ke wilayah pemukiman Jemaah Ahmadiyah yang semalam menjadi korban kekerasan oleh sekelompok warga.

Bersama beberapa rekan dari berbagai lembaga, siang itu kami membelah macetnya Bogor menju desa Cisalada. Perjalanan dari stasiun Bogor ditempuh kurang lebih satu setangah jam.

Jalanan desa yang tidak beraspal, sempit dan hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan, harus ditempuh kurang lebih 2 kilo meter dari jalan raya. Sejak mendekati desa Cisalada, aparat kepolisan, Brimob dan TNI sudah terlihat berada di beberapa titik. Mereka berkumpul dan mendirikan pos-pos penjagaan.

Siang itu masih terlihat sisa-sisa pembakaran dan kekerasan semalam, sebuah mobil teronggok di tepi selokan. Mobil jenis Kijang tersebut milik warga yang dibakar massa.

Kemudian padangan saya tertuju pada beberapa rumah yang habis dan tak tersisa di kanan kiri jalan. Rumah tersebut tinggal tembok gosong yang tersisa dan menjadi saksi kebrutalan massa semalam.

Sebauh sekolah madrasah tak luput dari aksi masa, kaca-kaca pecah, pintu kela, meja, kursi teronggok gosong di luar kelas. Sementara itu buku-buku pelajaran tak luput dari aksi pembakaran itu.

Pandangan saya beranjak pada bangunan masjid yang berdiri tepat di ujung jalan kampung, masjid milik jemaah ahmadiyah itu adalah saasaran mereka. Pintu depan telah hancur, atap jebol dibeberapa tempat. Sementara lemari dan etalasi yang berisi buku-buku telah hancur.

Siang itu saya bertemu dengan ketua rukun warga Edy Humaidy (60), kemudian ia menuturkan peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2010. Lelaki tersebut menerawang sejenak sebelum menuturkan peristiwa itu.
Sore baru beranjak ketika gerimis mulai membasuh wilayah desa Cisalada, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Beberapa pria berjaga-jaga di rumah masing-masing, sementara perempuan mendekap erat anak-anaknya.

Malam belum menjelang ketika tepat pukul 19.00, terdengar suara puluhan anak muda mendekati kampung, mereka berteriak-teriak “bakar-bakar…!”. Para perempuan kembali berzikir dalam kecemasan. Malam itu kampung terasa mencekam, karena berita penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah sudah didengar warga dari hari jumat.

“Kami sudah mendengar akan terjadinya penyerangan itu, mulai pukul 19.30 kemudian muncul puluhan anak-anak muda tanggung datang ke kampung ini, mereka menyerbu masjid, merusak isinya. Namun pada kedatangan mereka yang pertama belum terjadi pembakaran”. ujar ketua RW.

Ketua RW menuturkan bahwa setelah melakukan pengrusakan mereka pergi, namun ada 1 anak yang ditangkap oleh warga dan diamankan dirumah RW. Rupanya hal itu memicu kemarahan dari kelompok penyerang, dalam waktu yang tidak lama kelompok massa yang lebih besar datang.

Lebih dari 300 orang menyerbu masjid, membakar isinya, merusak lemari dan etalase yang berisi buku-buku milik jemaah Ahmadiyah. Waktu itu kira-kira pukul 20.30 hingga pukul 21.30, kampung mencekam. Suara teriakan takbir berbaur dengan caci maki dan teriakan bakar-bakar terus menggema.

Tak ada perlawan dari warga selama kekerasan itu terjadi, karena warga telah dipesankan untuk tidak melawan, jadi tidak benar kalau terjadi bentrokan. Bahkan warga tidak ada yang keluar rumah, mereka hanya berjaga didalam rumah masing-masing. Kemudian suara bom molotov dilempar ke dalam masjid At-Taufik dan membakar isi dalam masjid.

Tidak puas sampai disitu mereka menyerang rumah milik jemaah Ahmadiyah, merusak kaca-kaca rumah, menerobos jendela. Mereka juga melakukan penjarahan barang-barang milik warga seperti handpond, dvd palyer dan televisi. Setelah dijarah rumah-rumah tersebut dibakar menggunakan bom molotov dan bensin yang sudah mereka siapkan.

“Mereka mengambil telur diwarung dan rokok, bahkan rice cooker yang masih penuh nasi juga diambil oleh mereka, dibawa pergi oleh para penyerang” ujar warga yang menjadi korban.

Tidak luput dari pengrusakan rumah Sapari (76), lelaki yang berprofesi sebagai penjual ikan hias itu menjelaskan bahwa beberapa orang datang kerumahnya, merusak kaca, merusak lemari yang berisi obat-obatan milik jemaah Ahmadiyah. Kemudain mereka merusak aquarium ikan hias, yang selama ini menjadi sumber kehidupannya.

“Mereka sempat berteriak bakar-bakar rumahnya, saya hanya pasrah saat itu”. Saya sempat disuruh keluar oleh mereka. Saya mengenali salah satu penyerang, mereka warga kampung sebelah” Beberapa penyerang diketahui berasal dari kampung Cihampea Udik, Kebon kopi dan Pasar Salasa.
Dalam aksi kekerasan masa yang dapat dihimpun oleh RW, rumah yang terbakar adalah milik Basir Nawai, Mubalig, Madarasah, Basir Udin, Buharti. Sementara rumah yang rusak milik Haji Oha, Dudun, Muslimah, Rohali, Cacih, Mahfdu, Ngabari, Sairan, Saijulan, Munawaroh, Ahmad, Dayat, Naing dan Jainudin.

Sementara mobil yang dibakar milik Yusup yang berada di garasi dan ditarik masa keluar rumah kemudian dibakar di tepi jalan. Motor yang dibakar milik Barik, Edy dan Hidayat.

Polisi datang dari Polres Bogor setelah mendapat laporan dari ketua RW, namun karena jumlah mereka sedikit massa tidak dapat di bending melakukan tindakan anarkis. Situasi mencekam terjadi tanpa ada aparat yang mampu mencegah, hingga pukul 22.00, pasukan brimob mulai berdatangan dan mengusir para penyerang.

Untuk memadamkan rumah yang terbakar warga melakukan inisiatif sendiri karena pemadam kebakaran tidak dapat masuk ke desa mereka karena kondisi jalan yang sempit. Sementara itu beberapa warga terpaksa mendiamkan rumah mereka terbakar habis.

Ketua RW juga membantah adanya penusukan malam itu, ia mengatakan bahwa jemaahnya tidak melakukan perlawanan karena memang tidak di instruksikan untuk melawan. “Saya tidak tahu kalau ada yang tertusuk, tetapi sejak semalam ada beberapa jemaah yang dibawa polisi unutk diperiksa. Kami ini korban, kok malah di tuduh menusuk”

Tidak benar berita yang mengatakan mereka bentrok, melawan saja tidak jemaah Ahmadiyah. “Kami tidak berani keluar rumah, kami pasrah apapun yang akan terjadi” ujar Sumaripin (65) yang saya temui didepan masjid.

Sejak tahun 1930an Ahmadiyah ada di kampung ini dan sejak turun temurun warga di daerah itu menjadi pemeluk Ahmadiyah. Selama ini tidak pernah terjadi konflik yang dipicu oleh keberadaan jemaah Ahmadiyah. Pada saat ini jumlah jemaah Ahmadiyah sekitar 700 orang, yang terdiri dari 95 kepala keluarga.

Penyerangan kali ini adalah yang paling tragis dan dilakukan oleh sejumlah anak-anak muda antara usia 17 an tahun. Namun diketahui dalam penyerangan tersebut terdapat seseorang yang disebut “Koprek”, yang diduga sebagai penggerak massa.
Kekerasan selalu meninggalkan luka dan trauma bagi para korban, terumata pada korban kekerasan atas nama agama. Atas nama kepercayaan mereka diadili oleh sesame, atas nama perbedaan mereka menyerang umat lain yang dianggap berbeda.

Indonesia ternyata masih tidak bisa memberikan jaminan keamanan bagi tiap warga negaranya. Dirumah sendiri mereka harus dicekam kecemasan karena sewaktu-waktu kekerasan bisa terjadi.

SKB Menag, Mendagri, Jaksa Agung ternyata terus meninggalkan luka dihati tiap jemaah Ahmadiyah diberbagai tempat. Hingga saat ini pemerintah masih membisu dan menganggap SKB sebagai surat sakti yang dianggap tepat dan cocok untuk menjawab perbedaan yang ada.

Pernyatan menteri agama beberapa waktu lalu soal pembubaran Ahmadiyah adalah gejolak yang dibangun di atas bara bumi ini. Menteri agama mengobarkan semangat kebencian dan permusuhan, hal ini tidak selayaknya di ucapkan oleh seorang menteri yang selayaknya dapat memberikan kenyamanan bagi semua pemeluk agama.

Diatas puing rumah mereka, jemaah Ahmadiyah masih terus berharap Negara ini mampu bersikap adil terhadap pelaku mereka. Diatas sisa puing masjid yeng terbakar jemaah Ahmadiyah masih menggantungkan harapan dan doa agar kekerasan tak lagi terjadi.

Sore kembali menyentuh desa, gerimis dan hujan kembali bersahabat dengan bumi. Pelan-pelan saya mulai beranjak meninggalkan kampung Cisalada, meninggalkan onggokan buku-buku pelajaran anak-anak madrasah yang tinggal puing-puing. Kemudian meninggalkan ratusan aparat brimob yang terus berdatangan kekampung itu dengan peralatan perang lengkap. Entah untuk apa kehadiran mereka kali ini.

Kemudian bersamaan dengan lambaian tangan beberapa warga sejumput asa tertinggal di kampung nan asri itu, semoga damai menjadi milik kita semua tanpa kecuali, biarkan sejarah tetap menjadi bagian dari puing-puing, namun semangat untuk tetap mencintai perdamain tinggal ditiap hati. (Agnes Dwi)

Jakarta, 3 Oktober 2010.

http://anbti.org/2010/10/1407/

One comment

  1. i like this essay. Anda menulis dengan hati dan realitas!Negarawan kita memang payah. gak dewasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*