Soundbite

Soundbite. Itulah istilah kunci yang disampaikan Milica Pesic, Direktur Media Diversity Institute, sore hari itu. Pertemuan dengan Milica Pesic diagendakan oleh Freedom House pada Selasa sore kemarin (18/5), karena sedianya Milica yang menjadi narasumber pada pelatihan Advokasi Kebebasan Beragama bulan April lalu berhalangan hadir karena ada kendala perjalanan.

Pesan dari Milica, harus dapat mengatur info apa yang hendak disampaikan dalam ruang atau space naskah yang terbatas. Itulahsoundbite. Bagaimana menyampaikan informasi yang penting dengan singkat dan padat, tapi menggigit (bite).

Pertemuan kemarin diawali dengan perkenalan, dengan metode soundbite. Pembatasnya bukan berapa karakter yang tersedia, melainkan seberapa lama kami dapat mempertahankan nyala korek api yang dipegang oleh tangan masing-masing. Bergantian, 9 peserta yang hadir, narasumber, moderator dan translator memperkenalkan diri. Walaupun peserta yang datang tidak sebanyak pelatihan sebelumnya, hal itu tidak mengurangi kemeriahan saat kami ber-soundbite. Dan hasilnya cukup beragam. Di antara peserta ada yang bisa memperkenalkan diri cukup lama, ada pula yang harus menghentikan kalimatnya yang belum selesai karena api di tangannya terlanjur padam. Tapi ada pula yang apinya tak mau padam, sampai harus ditiup sendiri oleh yang memegangnya.

Milica meminta kami menyampaikan kesimpulan-kesimpulan ataupun temuan masalah dari pelatihan bulan April lalu. Walaupun Milica telah membaca notulensi proses pelatihan, nampaknya ia ingin mendengar langsung dari para peserta, untuk tidak mengulang proses yang sudah berlangsung.

Beberapa kawan menyampaikan rangkumannya. Media agar memberitakan secara elegan. Bagaimana memilih narasumber. Bagaimana memberitakan dari perspektif korban. Rekomendasi penguatan jaringan antara NGO dan jurnalis. Juga isu kebebasan beragama bagi anak.

Persoalan yang juga mencuat dalam pelatihan adalah ketika jurnalis hanya mengambil satu versi atau satu perspektif. Ingwuri Handayani, Desantara, menyampaikan jawabannya: Karena jurnalis punya latar belakang beragam, maka tidak jarang dalam meliput isu agama ia akan memandang dari sudut pandangnya sendiri. Jurnalis juga disibukkan dengan target mengumpulkan berita, sehingga mengesampingkan investigasi mendalam, apalagi persaingan berita semakin ketat.

Piet Khaidir, Freedom House, juga menyampaikan rangkumannya: faktor pemahaman jurnalis yang kurang terhadap substansi kebebasan beragama, selain juga kurang paham untuk mengambil angle yang bagus dalam persoalan ini. Selain itu juga ada persoalan beberapa media yang tidak berpihak terhadap kebebasan beragama, misalnya dengan mencap sebuah aliran sebagai sesat.

Nah, ternyata menurut Milica, musuh utama jurnalis sebenarnya sensor pribadi, bukan pemerintah. Jurnalis itu sendirilah yang menentukan apa yang dibolehkan atau tidak dibolehkan untuk diberitakan. Ia memberikan contoh pada satu kasus pengadilan di Azerbeidjan yang dihadirinya. Negara ini adalah negara pecahan Uni Soviet, yang cukup makmur karena minyak, namun kondisi penghormatan terhadap HAM menurun.

Informasi awal yang didapatkan adalah bahwa jurnalis (asing maupun lokal) tidak boleh merekam, mengambil gambar, atau mewawancarai terdakwa. Ternyata saat pengadilan, hakim dengan ramah membolehkan itu semua. Kondisi terdakwa pun tidak dirantai. Walaupun memang waktu yang disediakan sangat terbatas. Tapi karena (mungkin) terlanjur mendapatkan informasi akan banyak kendala, banyak jurnalis yang kemudian lupa mencatat atau merekam.

Dari situasi sidang itu, Milica menyarankan jurnalis setempat untuk memberitakan kondisi pengadilan yang ”berbeda” dari biasanya. Bahwa ruangan sidang penuh, padahal biasanya sepi. Bahwa hakimnya penuh senyum, padahal biasanya tidak ramah. Bahwa terdakwa tidak dirantai, tentu pembaca tidak bodoh untuk memahami bahwa selama ini terdakwa justru dirantai. Di sinilah jurnalis dituntut berkreasi, bagaimana berputar untuk menyampaikan informasi yang akan disampaikan. Bagaimana pula caranya untuk mengatakan sesuatu, tanpa menggunakan terminologi yang tidak pantas atau menyakiti orang lain.

Sementara Steve Turner(??), mengingatkan agar NGO berhati-hati dengan jurnalis. Tidak untuk mengindari kontak. Steve hanya meminta agar berhati-hati. Karena menurut Steve, berita yang buruk atau negatif di media itu hanya ada jika tidak berbicara dengan jurnalis. Walau bagaimanapun, jurnalis juga punya keterbatasan sumber daya dan waktu dalam penulisan berita.

Walaupun peserta yang hadir kebanyakan bukan dari media, pertanyaan yang diajukan kepada Milica dan Steve tidaklah jauh dari persoalan-persoalan tentang media. Soal NGO yang punya media sendiri. Kesulitan cover both side dalam meliput kasus individu. NGO seringkali tidak mendapat tempat untuk dicover media. Sampai persoalan anonimus untuk korban, khususnya korban perkosaan.

Kehadiran media yang dibidani NGO, menurut Steve, dapat menjadi media tambahan, tapi bukan menjadi pengganti media mainstream. Di sinilah, menurut Milica, NGO memang harus berpihak, yaitu kepada korban. Masih menurut Milica, dalam mengungkap kasus individu sebagai korban, tidak diperlukan cover both side. Karena justru yang penting diangkat adalah tentang korbannya.

Tentang anonimus, menurut Milica kembali kepada peraturan hukum di negeri ini. Di Inggris, hukum mengatur larangan menyebutkan nama korban perkosaan, sekalipun korban dan keluarganya bersedia. Bahkan penyebutan nama pelaku pun dilarang jika masih berusia di bawah 18 tahun. Untuk kejahatan luar biasa, yang akan mengarah kepada identifikasi korban, juga diatur pelarangannya.

(Saat itu, dalam benak saya terlintas arahan dari Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas, betapa ia tidak menyarankan penyamaran nama korban dengan nama-nama bunga. Menurut Maria, samarkanlah nama korban dengan nama manusia, tidak menggunakan nama spesies lain)

Agar jurnalis mau memberitakan tentang NGO, menurut Milica, tidak perlu memberikan atau membuat berita buruk. Justru NGO harus berpikir dengan cara berpikir media. Media mungkin akan bosan jika harus meliput konferensi tahunan yang itu-itu saja. Atau program maupun kegiatan kerja yang biasa dilakukan. Tapi NGO bisa melakukan hal lain. NGO dapat menawarkan cerita kepada media, tentang para pihak yang menerima manfaat dari program mereka, atau cerita lain. NGO tidak dapat sekedar menunggu datangnya jurnalis, tetapi NGO harus bisa menawarkan cerita, bukan sekedar berita. Lagi-lagi, di sini Milica mengingatkan untuk soundbite.[]Ema Mukarramah

One comment

  1. I link [url=http://www.glassesite.com/faq.html]replica sunglasses[/url] or [url=http://www.guy4mesos.com]maple story mesos[/url]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*