Siaran Pers Bersama Peringatan Mei 2010

Peringatan Mei 2010:
Hari Kebangkitan Nasional, Hari Pendidikan Nasional
&
12 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 98
Jakarta, 11 Mei 2010

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional dan 12 tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 98 kali ini kami bicara tentang HARAPAN. Kita mampu membuat perubahan, kita mampu mandiri membangun bangsa Indonesia damai dan kokoh, menghormati hak asasi manusia tanpa membedakan ras, etnis, agama, gender, usia atau apapun latar belakang seseorang.

Momentum Peringatan Mei 2010 kali ini melibatkan ribuan orang yang amat beragam baik ras, etnis, agama, usia, gender maupun latar belakang. Ada ribuan anak mulai dari tingkat Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak sampai orang dewasa yang bertekad membangun Indonesia yang damai dimana semua orang dihargai sebagai manusia yang setara. Mereka semua bahu membahu membuat momentum Peringatan Mei 2010 ini menjadi momentum membangun tekad dan harapan bersama. Setiap orang mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ada ribuan anak yang membuat cap telapak tangan perdamaian, ada kelompok perempuan yang membuat dan menyebarkan Kue Bintang Harapan, ada kelompok korban Mei dan relawan yang membuat ribuan Boneka Mei, ada banyak guru yang bertekad untuk mengajarkan murid-muridnya menghargai sesama manusia dan bertanggung jawab untuk membangun masa depan bangsa. Semua orang punya tanggung jawab, semua orang bisa berperan. Kita bisa meraih harapan kita asalkan kita bergandengan tangan dan mensinergikan semua kekuatan keragaman bangsa kita.

Kami percaya pendidikan adalah kunci perubahan bangsa. Sedini mungkin anak harus diajar mengenal dan belajar dari sejarah bangsa maupun bagaimana berinteraksi sebagai bagian dari bangsa yang amat plural. Pendidikan adalah kunci untuk mencerdaskan bangsa, kunci agar tidak terjadi lagi tragedi yang sama seperti Tragedi Kemanusiaan Mei 98. Oleh karena itu momentum Peringatan Mei 2010 ini kami mengangkat pentingnya pendidikan bagi semua orang, terutama anak-anak.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Namun suara mereka kerap kali tidak diperhitungkan saat kita bicara tentang masalah-masalah bangsa atau masa depan bangsa kita. Mereka lebih sering dianggap sebagai kelompok yang lemah, tidak mengerti apa-apa dan belum bisa menentukan apa yang benar atau yang salah. Karenanya mereka lebih banyak diposisikan untuk mendengar dan menerima semua nilai yang ditanamkan oleh orang-orang dewasa kepada mereka.

Dalam realita kehidupan sehari-hari kami menemukan banyak orang yang secara sadar atau pun tidak justru memaksakan anak untuk menerima nilai-nilai yang keliru berdasarkan pandangan mereka yang sempit atau trauma di masa lalu. Bahkan sejak usia dini banyak anak yang dilarang untuk bergaul dengan anak lain yang berbeda ras, etnis, agama, asal usul atau golongan.

Karena itu dalam momentum bulan Mei 2010 ini saat kita memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional kami ingin kita semua memikirkan secara serius masa depan bangsa kita: masa depan di tangan anak-anak kita yang berbeda ras, etnis, agama, gender atau apapun latar belakangnya.

Siaran Pers Bersama:

Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa, Fakulas Hukum Universitas Atmajaya, Komnas Perempuan, Perhimpunan Indonesia Tionghoa, Keong Mas, Forum Keluarga Korban Mei 98, IKOHI, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, Jaringan Tionghoa Muda, YSIK, Sinergi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*