Gus Dur Yang Membela

oleh: Ema Mukarramah

Ada banyak sisi yang dapat dikenang dari seorang Gus Dur, bapak bangsa yang telah tutup usia pada 30 Desember tahun lalu. Nenek Della, seorang sepuh dari kelompok miskin kota, mengenang Gus Dur sebagai orang yang membela kaum tertindas dan marjinal.

“Pada saat pemerintahan Gus Dur, tidak ada penggusuran,” tegasnya. Hadirin menyepakatinya dengan bertepuk tangan.

Nenek Della menyampaikan refleksinya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta (9/02). Refleksi itu digelar untuk memperingati 40 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan sebutan Gus Dur. Diselenggarakan atas kolaborasi sejumlah lembaga swadaya masyarakat: Migrant Care, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanamitra, Kapal Perempuan, Yayasan Pemantau Hak Anak, Yayasan Jurnal Perempuan, AMAN Indonesia, Urban Poor Consortium, LBH APIK Jakarta, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan ICRP.

Pembelaan Gus Dur terhadap gerakan perempuan juga dinyatakan oleh putrinya, Yenni Wahid. Menurut Yenni, Gus Dur adalah orang yang mendukung kampanye anti poligami, “sekalipun banyak koleganya yang melakukan poligami,” ungkap Yenni.

Gus Dur juga tanpa pamrih memberikan dukungan untuk perlindungan hak homoseksual. Testimoni dari Hartoyo, Sekum Our Voice, sebuah kelompok LGBT tidak dapat melegalisasikan keberadaannya karena tidak ada notaris yang mau menerima. Namun berkat rekomendasi dari Gus Dur, akhirnya kelompok itu kini dapat mencatatkan diri secara hukum.

Turut menyampaikan testimoni adalah Musdah Mulia, Ketua Umum ICRP; Magdalena Sitorus, Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Dian Kartika Sari, Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia. Dalam testimoninya, Musdah Mulia juga sempat mengingatkan, agar perjuangan Gus Dur selama ini untuk kebebasan beragama terus dilanjutkan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*