Iman adalah Pikiran

Orang beragama sejak kecil umumnya diindoktrinasi oleh para rohaniwan dari berbagai agama untuk selalu mengutamakan iman dibandingkan akal budi ketika mereka sedang menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan mereka, atau ketika mereka sedang mencari pengetahuan objektif yang dapat diandalkan bagi kehidupan manusia.

Ketika seorang beragama sedang menghadapi suatu kesulitan berat, pengasuh rohaninya umumnya mengajarkannya untuk jangan bergantung pada pikiran sendiri, melainkan harus hanya dengan iman bergantung penuh dan pasrah pada Allah Yang Mahakuasa, dan menyerahkan semua persoalannya kepada-Nya. Yang dimaksud dengan “iman” dalam hal ini tentu adalah rasa percaya yang dikuat-kuatkannya sendiri dalam hatinya kepada Allah yang dilihat sebagai suatu figur Bapa atau Ibu pelindung dan penolong.

Tentu sikap berpasrah total kepada Allah bisa memberi suatu ketenteraman pada diri orang beragama yang sedang bermasalah berat dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tetapi rasa tenteram yang ditimbulkan oleh kepasrahan total bisa merupakan suatu rasa tenteram yang palsu, keliru dan berbahaya, karena membuat si mukmin tidak mau lagi memikirkan persoalannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mau lagi mencari jalan keluar secara rasional. Rasa tenteram yang semacam ini bisa berbahaya bagi dirinya karena menyebabkannya menunda menyelesaikan persoalannya dan membuat persoalannya makin menumpuk, makin rumit, dan makin membelit dan mematikan dirinya dari waktu ke waktu. Rasa tenteram semacam ini tidak produktif karena juga membuatnya bukan makin aktif mencari solusi persoalannya, melainkan membuatnya makin pasif dan akhirnya mematikan semua fungsi kreatif otaknya.

Para rohaniwan biasanya juga meminta umat mereka untuk beriman hanya kepada kebenaran Kitab Suci ketika mereka menjumpai konflik atau benturan antara apa yang ditulis dalam Kitab Suci dan apa yang menjadi pandangan sains modern tentang sesuatu hal. Yang dimaksud dengan “beriman” di sini adalah meyakin-yakinkan hati dan pikiran sebisa-bisanya dan sekuat-kuatnya, menyugesti diri sedalam-dalamnya dalam ketakwaan kepada Allah dan kepada suatu akidah keagamaan, bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci adalah benar sementara yang menjadi pandangan sains modern adalah salah.

“Beriman” secara demikian juga merugikan dan membahayakan diri si mukmin. Sebab pada satu pihak beriman semacam ini akan mendorong dirinya untuk selalu berupaya berargumentasi dengan cara pseudo-ilmiah untuk mempertahankan bahwa apa yang harfiah ditulis Kitab Suci adalah benar, sedangkan pandangan sains tentang hal yang sama adalah salah. Para pembela dogma kreasionisme dalam berbagai agama dewasa ini adalah contoh orang-orang semacam ini, orang-orang yang atas nama kewibawaan ilahi suatu Kitab Suci menolak pandangan-pandangan astrofisika, kosmologi, Darwinisme dan biologi modern!

Pada pihak lainnya, beriman semacam ini juga akan memaksa si mukmin untuk menjalani kehidupan dalam dua dunia yang berbeda dan berbenturan satu sama lain. Pada satu pihak dia harus hidup dalam suatu “dunia sakral” yang mengharuskannya membela dan mempertahankan mati-matian segala hal yang (dalam keyakinannya) ditulis oleh Allah dalam Kitab Suci. Tetapi pada pihak lainnya, di “dunia sekularnya” dia harus juga menerima pandangan-pandangan sains modern yang bertabrakkan dengan apa yang ditulis dalam suatu Kitab Suci tentang hal yang sama. Pandangan-pandangan sains modern ini diajarkan di sekolahnya dan harus diterimanya jika dia mau menjadi seorang nara didik yang berpikiran normal dan akhirnya bisa lulus dengan baik dari pendidikan formalnya. Inilah suatu bahaya psikologis patologis berupa keterpecahan kepribadian yang dialami setiap mukmin yang tidak bisa menempatkan dengan benar kedudukan suatu Kitab Suci keagamaan yang bukan kitab sains dan yang tidak mengajarkan sains, dan kedudukan sains modern sebagai pemandu kehidupan manusia dalam mencari kebenaran pengetahuan objektif dari berbagai hal yang mengitari kehidupan manusia setiap hari dalam kosmos yang sangat luas.

Untuk menghindari kekeliruan dan bahaya seperti yang sudah digambarkan di atas dalam pendidikan keagamaan, sudah seharusnya kita memandang bahwa iman dan rasio adalah dua hal yang sesungguhnya sama-sama diproses di dalam organ serebral maha penting dalam rongga kepala kita yang melahirkan dan mengatur pikiran kita, dan bahwa karena itu iman adalah pikiran juga. Jadi, jika kita dapati iman seorang mukmin tertentu sebagai iman yang membuta, kita harus memandang iman semacam ini juga sebagai pikiran yang membuta. Pikiran yang membuta adalah pikiran yang tidak di-manage dengan benar menuju suatu pencerahan. Begitu juga, iman yang naif, yang membuat seseorang mengambil sikap “asal percaya saja terhadap apa yang ditulis dalam Kitab Suci!”, adalah juga pikiran yang naif. Pikiran yang naif adalah pikiran yang tidak di-manage dengan kritis dan dengan saksama. Demikian juga, jika iman sekelompok mukmin membawa masyarakat ke dalam bahaya dan menjadikan kehidupan masyarakat tidak sehat, maka kita harus menyatakan bahwa pikiran mereka berbahaya dan sakit, dan pikiran semacam ini membuat masyarakat juga sakit atau dibawa ke dalam bahaya.

Dengan memandang dan memperlakukan iman sebagai pikiran, maka ketika kita menyatakan suatu ketidaksetujuan atau perlawanan kita terhadap suatu perilaku beriman seorang atau sekelompok orang beragama yang tidak betul atau yang mengancam kesehatan dan keutuhan masyarakat, kita bukan sedang berperkara dengan Allah Yang Mahakuasa yang diklaim melindungi kelompok ini, melainkan dengan pikiran-pikiran insani mereka yang keliru. Pikiran-pikiran mereka keliru karena mereka telah lama diindoktrinasi dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan dan anti-sains, dan yang karenanya membahayakan dan memecahbelah masyarakat dan mengancam peradaban manusia yang dibangun di atas rasionalitas manusia.

(Oleh Ioanes Rakhmat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*